Surabaya (Antara Jatim) - Anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) DPRD Surabaya, periode 2014-2019 Baktiono meminta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPD) 2015 dibahas ulang.
Pembahasan RAPBD 2015 yang dilakukan sebelumnya oleh anggota DPRD lama tidak lazim, karena mendahului pembahasan Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) APBD 2014, kata Baktiono, di Surabaya, Jawa Timur, Rabu.
"Saya nilai ini tidak memenuhi persyaratan karena PAK belum disahkan, sudah bahas RAPBD 2015," tegasnya.
Menurut dia, sesuai mekanisme, koreksi Gubernur Jawa Timur atas Perubahan Anggaran Keuangan yang diajukan membutuhkan waktu sekitar 14 hari. Dengan koreksi itu, bisa dijadikan tolok ukur Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara serta RAPBD 2015.
Baktiono meminta Wali Kota Surabaya mengajukan lagi RAPBD 2015. Sementara terkait pembahasan yang sudah selesai di Komisi A dan B, fungsionaris DPC PDIP ini tetap berharap diulang.
"Meskipun di Komisi A dan B sudah selesai, tetap harus dibahas ulang karena tidak layak," katanya.
Selain itu, Baktiono berharap Pemerintah kota nantinya lebih memprioritaskan program pembangunan yang mudah terserap, di antaranya yang berkaitan dengan kegiatan sosial seperti pembangunan rumah sakit, dan sekolah.
"Kalau bisa tiap kelurahan ada sekolah mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK Negeri," katanya.
Pembangunan sekolah dilakukan di masing-masing wilayah dilakukan untuk mendekatkan siswa dengan sekolah, selain mengurangi kemacetan juga memudahkan para siswa, menampung guru tidak tetap yang jam mengajarnya terbatas.
Mantan Ketua Komisi D DPRD Surabaya ini menilai selama ini program pembangunan yang dijalankan pemerintah kota banyak yang terbengkalai. Hal itu dibuktikan dengan rendahnya serapan anggran pembangunan.
"Pembangunan fisik banyak yang tidak terserap, seperti box culvert, Pavingisasi, Penerangan jalan umum (PJU) dan monorail dan trem," ujarnya.
Baktiono berharap, dalam menentukan program pembangunan pemerintah kota telah memetakan kebutuhan masyarakat yang mendesak untuk dilayani. Ia menegaskan, dalam bidang kesehatan program pembangunan rumah sakit baru perlu diutamakan, karena sudah mendesak.
"Daftar tunggu kelas 3 di RSUD Soewandi sudah mencapai 400 orang, sedangnkan di RSUD dr Soetomo mencapai 3.000-an," katanya.(*)
Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.