Oleh Christina Eviutami Mediastika ST PhD *) Banyak yang beranggapan bahwa akustika adalah bidang ilmu yang sulit untuk dipelajari. Akustika bangunan merupakan sebuah kajian ilmu yang mempelajari tentang suara, bagaimana suara diproduksi/dihasilkan pada suatu ruang atau mediumnya. Namun, hal itu bisa berawal dari kegemaran bercocok tanam. Tanaman tidak signifikan mengurangi kebisingan, adalah nyata. Apabila banyak yang merasa bahwa tanaman dapat mengurangi kebisingan, itu hanya persepsi belaka. Contohnya adalah tanaman lidah mertua (sansevieria trisfasciata) setinggi 80 cm yang diletakkan dalam pot dan sirih Belanda (scindapsus sp) diletakkan pada rangka kayu setinggi 1 (satu) meter di dalam dua kantor bertipe kubikal. Itu tanaman yang free-maintenance dan kuat, artinya tidak perlu disiram ataupun dikeluarkan terlalu sering. Setelah diteliti, ternyata alat pengukur kebisingan tidak menunjukkan perubahan penurunan level kebisingan yang berarti. Akan tetapi, mayoritas pekerja yang diteliti merasa lebih nyaman dan tenang dengan adanya tanaman yang diletakkan di dalam kantor tersebut. Kesimpulannya, teori yang mengatakan bahwa tanaman dapat menjadi peredam bunyi hanyalah persepsi orang saja. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Pada dasarnya, setiap orang memiliki kesenangan ketika melihat tanaman. Jarang dijumpai ada orang yang tidak suka saat melihat tanaman. (*). ----------------------------------- *) Penulis adalah peneliti Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya dan lulusan University of Strathclyde, Glasgow, UK yang memiliki ketertarikan khusus di bidang akustika bangunan. *) Tulisan itu merupakan hasil kajian akustika bangunan dan tanaman dalam penelitian berjudul "Reducing Indoor Noise Levels Using People's Perception on Greenery”" yang terindeks di Scopus. (*).


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026