Surabaya (Antara Jatim) - Gunung api Kelud yang berada di perbatasan tiga kabupaten di Jatim, yaitu Kediri, Blitar dan Malang "berulah" atau erupsi pada Kamis (13/2) malam sekitar pukul 22.30 WIB. Berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Jumat (14/2) sore, tercatat dua orang meninggal dan 100.248 orang mengungsi akibat erupsi gunung api yang memiliki ketinggian 1.731 meter dari atas pemukaan laut (mdpl). Korban meninggal, menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, adalah Sail (60) warga RT 12 RW 04 Dusun Ngutut, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Korban meninggal di bawah meja karena atap rumahnya roboh. Sedangkan korban meninggal lainnya yakni Pontini (65) warga Dusun Plumbang, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang karena tertimpa tembok yang roboh. Sutopo mengatakan robohnya rumah atau bangunan karena menahan beban abu dan pasir erupsi Gunung Kelud di bagian atap rumah yang konstruksinya kurang kuat. "Jadi korban meninggal dunia bukan akibat dampak langsung dari erupsi, tetapi karena kecelakaan (musibah) atau dampak lain dari erupsi," ujar dia. Jumlah pengungsi akibat erupsi Gunung Kelud pada pukul 06.00 WIB berjumlah 100.248 orang tersebar di 172 titik. Pengungsi, menurut Sutopo, berasal dari Kabupaten Kediri sebanyak 66.319 orang dari 205 titik, Kabupaten Blitar 28.970 orang dari 63 titik, Kabupaten Tulungagung sebanyak 1.349 orang dari 11 titik, dan Kabupaten Malang sebanyak 3.610 orang dari 14 titik. Pada Jumat sekitar pukul 08.00 WIB sebagian pengungsi sudah meninggalkan pengungsian untuk kembali ke rumah guna membersihkan rumah dari abu dan pasir erupsi Gunung Kelud. Sutopo mengatakan di Blitar jumlah pengungsi yang semula 28.970 jiwa saat ini pengungsi berkurang menjadi 2.070 jiwa yaitu di Kecamatan Garum (470 jiwa), Kecamatan Gandusari (500 jiwa), dan Kecamatan Nglegok (1.100 jiwa). "Untuk pengungsi pendataan masih terus kita lakukan hingga saat ini," ujar dia. Secara umum, dampak erupsi Kelud mampu dibuat "minimalis", karena para pemangku kepentingan di daerah terdampak langsung maupun provinsi hingga nasional (Pemerintah Pusat) sejak jauh hari sudah mengantisipasi atau melakukan persiapan tatkala Kelud mulai menampakan peningkatan aktivitas. Pada Minggu (2/2), Kelud meningkat statusnya dari aktif normal menjadi waspada (level II), sejak itu antisipasi dilakukan dengan menutup kawasan radius 2 Km, warga atau siapa saja yang mencoba memasuki area terlarang dihalau oleh aparat. Jalur evakuasi dipersiapkan, tempat pengungsian hingga kebutuhan hidup dan kesehatan hingga obat-obatan bagi para pengungsi disediakan. Perencanaan kontingensi atau rencana kedaruratan digunakan sebagai dasar latihan kesiapsiagaan serta proses menentukan tujuan, pendekatan, dan prosedur program untuk menanggapi situasi yang diperkirakan akan terjadi. Termasuk mengidentifikasi kejadian dan membuat skenario, serta rencana yang tepat untuk mempersiapkan dan menanggapinya secara efektif, sudah dilaksanakan oleh BPBD Jatim melibatkan pemangku kepentingan daerah terdampak hingga masyarakatnya. Mulai Senin (10/2), PVMBG telah memutuskan kenaikan status Gunung Kelud dari semula waspada menjadi siaga. Kenaikan itu dipicu terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik di gunung tersebut, terhitung sejak Senin (10/2) pukul 16.00 WIB. Saat itu pula area terlarang radiusnya diperluas hingga 10 Km. Berikutnya Kamis (13/2), status Kelud meningkat lagi dari siaga (level III) menjadi awas (level IV) dan malam harinya meletus. Proses tanggap darurat yang cukup matang dipersiapkan hingga mampu meminimalisasi dampaknya ini diapresiasi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Ini pelajaran yang kita petik kalau masyarakat lokal mematuhi pemerintah daerah, kita bisa cegah korban jiwa yang tidak perlu dengan demikian masyarakat juga mendengar dan mengetahui apa yang disampaikan pemerintah," kata Presiden saat membuka rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden Jakarta, Jumat. Presiden mengatakan saat ini proses tanggap darurat di sekitar Gunung Kelud terus dilakukan dan pihaknya meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri dan pemerintah setempat terus bekerja sama dalam menangani proses tersebut. "Rapat hari ini kita mendengar (laporan-red) sekilas dari Menteri ESDM, kemudian Pak Surono situasi terkini dan apa yang bisa terjadi pada hari kemudian sehingga bantuan dan (langkah-red) tanggap darurat pemerintah bisa tepat," ujarnya. Presiden mengatakan telah berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Pangdam Brawijaya mengenai kondisi di lapangan. "Hari ini dan lusa kita utamakan tanggap darurat di lapangan setelah itu saya datang ke lokasi langsung, seperti apa situasinya tapi dua hari ini saya mau tanggap darurat, saya tidak mau terganggu konsentrasinya. Hari ketiga atau keempat saya langsung ke sana," kata Presiden. Presiden juga menunjuk Dr Surono, mantan Kepala PVMBG sebagai Kepala Badan Geologi. Bencana Provinsi Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan bahwa erupsi Gunung Kelud sebagai bencana provinsi, bukan bencana nasional, meski dampak dari hujan abu yang dilontarkan menyebar ke sejumlah daerah di Pulau Jawa hingga Madura, Bali maupun Lombok. "Gubernur Jatim menyatakan ini bencana provinsi, bukan bencana nasional. Kami akan berusaha semaksimal mungkin memberikan dan membantu yang terbaik untuk warga," ujarnya kepada wartawan usai menggelar rapat dengan sejumlah pejabat dinas membahas penanggulangan bahaya erupsi Gunung Kelud di Surabaya, Jumat. Pihaknya mengaku, sampai saat ini sedang dilakukan pendataan potensi bahaya letusan gunung api setinggi 1.731 meter di atas permukaan air laut tersebut. Pemprov bekerja sama dengan aparat terkait mendirikan 117 posko di Kediri yang potensinya hingga 60 ribu jiwa. Kemudian di Blitar ada 45 ribu jiwa yang disiapkan dengan 63 titik posko dan Malang dua titik posko dengan potensi 4.500 jiwa. Di samping itu, pihaknya juga telah menyiapkan petugas di lapangan serta jalur evakuasi. "Sosialisasi ke warga juga tidak akan berhenti dilakukan. Kami tidak ingin ada korban dan diimbau semuanya mematuhi petugas," kata wakil gubernur yang akrab disapa Gus Ipul tersebut. Sedangkan, hingga Jumat siang, berdasarkan data yang masuk ke Pemprov Jatim terdapat 14 ribu jiwa mengungsi di Malang, sekitar 4.000 jiwa di Kediri, 2.000 jiwa di Blitar, 170 jiwa di Tulungagung dan 205 jiwa di Jombang. "Kami juga menerima informasi ada dua warga meninggal dunia dan beberapa lainnya belum ditemukan. Semoga tidak ada korban lagi dan yang hilang ditemukan," tutur mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal tersebut. Sementara itu, Gus Ipul mengatakan bahwa saat ini yang dibutuhkan adalah sarana toilet atau MCK serta sarana air bersih. Tidak itu saja, masker dan air mineral juga sangat dibutuhkan pengungsi untuk menghindari sesak nafas akibat abu Gunung Kelud. "Pemprov Jatim sudah menyiapkan lebih dari 3.000 masker untuk pengungsi. Kami akan terus menambah dan memberikan bantuan logistik lainnya," ujar mantan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor tersebut. Pemprov Jatim juga berkoordinasi dengan Kodam V/Brawijaya serta Polda Jatim dan Polres setempat untuk membangun sarana maupun fasilitas untuk pengungsi. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan sekitar Rp30 miliar dana kedaruratan untuk penanganan bencana akibat erupsi Gunung Kelud."Dana ini khusus untuk bencana Gunung Kelud dan bukan untuk insfrastruktur karena sudah ada anggaran sendiri," tutur Gus Ipul. Anggaran ini digunakan untuk kebutuhan masyarakat maupun petugas di lapangan dalam menangani bencana di gunung Kelud. Anggaran itu diambilkan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Jawa Timur. Diharapkan dana tersebut mampu membantu dan jumlahnya masih bisa bertambah sesuai dengan kebutuhan. "Jumlahnya bisa bertambah sesuai kebutuhan. Kalau nantinya kurang, masih bisa dianggarkan," kata mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal tersebut. Pihaknya berharap semua kebutuhan masyarakat selama berada di tempat pengungsian dapat terpenuhi agar masyarakat tetap merasa nyaman dan aman meski tidak seperti berada di rumah sendiri. Sementara itu, penanganan pengungsi bencana Gunung Kelud ini telah dibantu sejumlah komponen terkait mulai dari Tagana, Palang Merah Indonesia (PMI), Pramuka, Ormas, Polri, dan TNI. Ribuan relawan juga diterjunkan untuk membantu meringankan beban pengungsi di penampungan. Gus Ipul berharap tidak ada warga yang kembali ke rumahnya hingga ada petunjuk dari petugas di lapangan. "Gubernur Jatim Soekarwo tadi sudah menyerukan agar 10 kilometer dari Gunung Kelud harus steril dari siapa saja, termasuk petugas. Kami tidak ingin ada korban dalam peristiwa ini," tandasnya. Gunung Kelud meletus pada Kamis (13/2) sekitar pukul 22.50 WIB. Satlak PB Kabupaten Kediri membuka Posko Utama pada 0354-7415299, Posko Logistik pada 0354-7415318 atau 08214068230, dan media center 0354-7415289. (*)


Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026