Orang Korea Selatan sadar betul bahwa kemajuan negaranya yang dicapai saat ini tidak terlepas dari kuatnya nilai-nilai dalam budaya di masa lalu yang telah diwariskan oleh para leluhurnya. Karena itu, orang Korea Selatan, lebih-lebih pemerintahnya begitu peduli terhadap upaya pelestarian budaya masa lalu itu agar tidak lenyap tersapu kencangnya angin budaya luar yang tidak mungkin sepenuhnya bisa dibendung. Sebagian dari upaya itu dengan mendirikan museum. Salah satunya adalah Museum Gugak yang khusus menyimpan benda-benda yang berkaitan dengan seni musik dan tari. Museum Gugak berada satu kompleks dengan Korean Gugak Center atau pusat kesenian tradisional Korea dan bersebelahan dengan kampus Universitas Seni Nasional Korea atau semacam institut seni di Indonesia. Meskipun koleksinya tidak sebanyak kekayaan musik dan tari di Indonesia, namun bangunan museum itu cukup bagus dan modern. Di museum yang dibuka sejak 1995 itu tidak ditemukan koleksi yang tergeletak di lantai karena kehabisan ruang, sebagimana ditemukan di beberapa museum di negeri kita. Kwon Soon Joo, bagian informasi di Museum Gugak memberikan penjelasan dengan mengantar pengunjung mulai dari koleksi di lantai dasar. Ada beduk raksasa yang dipajang di bagian tengah. Di belakangnya terdapat semacam diorama kelompok musim tradisional zaman kerajaan. Di sampingnya terdapat berbagai alat musik, termasuk dari batu dan kayu. Beberapa jenis beduk ukuran kecil juga dipajang di arena itu. Kwon Soon Joo kemudian naik ke lantai kedua lewat tangga. Di lantai ini dipajang berbagai bentuk gayageum, alat musik petik yang biasa dimainkan untuk mengiringi musik tradisional Arirang. Alat musik dengan 12 senar ini memiliki tiga tingkat nada, yakni rendah, menengah dan tinggi. "Arirang biasa dibawakan oleh masyarakat dan bisa pengobat lelah setelah bekerja," kata Kwon Soon. Pada Arirang ini terdapat berbagai bentuk koleksi. Ada piringan hitam dan kaset model lama. Pengunjung juga bisa mendengarkan berbagai macam jenis Arirang lewat pelantang suara di telinga. Koleksi lainnya adalah berbagai bentuk alat musik tabuh, seperti ketipung atau disebut "janggu", rebana atau "pungmulbuk" serta seruling. Museum ini juga mengoleksi buku-buku tentang musik dengan tulisan huruf Han Geul atau aksara Korea. Di tempat lain juga ditampilkan koleksi musik modern Korea Selatan. Pegiat dan salah satu pengagas Museum Musik Indonesia (MMI) Redy Eko Prasetyo yang dihubungi lewat surat elektronik mengatakan bahwa sudah selayaknya masyarakat dan pemerintah Indonesia melakukan hal yang sama seperti di Korea Selatan. "Menurut saya, standarisasi masuk kategori negara maju itu harus punya kapasitas menghargai seni dan budaya bukan hanya pada sisi hiburan atau sebatas sebagai ruang rekreatif. Konteksnya seni sebagai ruang ketahanan budaya yang strategis untuk membangun mental dan entitas sebuah bangsa," katanya. Musisi yang pernah pentas musik kontemporer ke berbagai negara dan daerah di Indonesia ini mengemukakan bahwa pemerintah selayaknya menempatkan musik ini pada konteks yang penting, jika sudut pandangnya musik sebagai bagian yang strategis dalam ketahanan budaya suatu bangsa. Indonesia dengan beragam musik folklor dan ribuan alat musik tradisional, maka sudah selayaknya negeri kita memiliki museum khusus musik. Hal ini penting untuk mengimbangi pengaruh budaya luar terhadap bangsa ini lewat musik. Pria kelahiran Besuki, Kabupaten Situbondo, Jatim, ini mencontohkan demam K-Pop dari Korea Selatan atau J-Pop dari Jepang dengan merebaknya JKT 48. Remaja-remaja kita saat ini sudah mengalami "demam" K-Pop dan J-Pop. "Ini yang saya maksud bahwa musik sudah menjadi bagian dari konteks ketahanan budaya. Itu mengapa kami mendirikan Museum Museum Indonesia di Malang," katanya. MMI, kata dia, sangat strategis untuk menyiapkan suatu fase di mana negeri ini sudah merasa nyaman pada kondisi apresiasi terhadap seni begitu tinggi. Untuk saat ini irama bangsa kita masih bereforia pada konteks dinamika politik dan itu hal yang wajar bagi suatu negara yang akan menjadi besar. "Jika fase itu usai maka negara ini akan masuk pada fase dalam konteks apresiasi seni secara massal. Ini tentunya setelah sisi kebutuhan ekonomi masyarkat sudah stabil sebagai salah satu indekasi bangsa yang besar," tuturnya. Mengenai MMI yang didirikan oleh komunitas Galeri Malang Bernyanyi saat ini telah mengoleksi 7.000 lebih keping kaset, compact disc (CD) dan piringan hitam berisi rekaman lagu-lagu lama. "Dari koleksi itu, selain murni musik, juga ada yang berisi wayang orang dan ludruk. Ternyata ada juga warga asing yang menyumbang, kami terima. Dari jumlah tersebut, ada sekitar 30 persen koleksi asing, yakni dari Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Belanda dan Prancis," kata Ketua Galeri Malang Bernyanyi Hengki Herwanto. Ia berharap keberadaan museum itu akan menjadi warisan berharga mengenai perkembangan seni musik di Tanah Air untuk para generasi mendatang. "Gagasan ini bertujuan untuk menyelamatkan sejarah musik Indonesia. Selama ini banyak hasil rekaman lama musik di Tanah Air yang sulit didapatkan. Ternyata ada sejumlah orang yang menyimpan koleksi lama itu dan kemudian diserahkan ke kami. Ada ratusan penyumbang yang sudah menyerahkan koleksinya ke kami, termasuk penyanyi Ebit G Ade," ucapnya.(*)
Berita Terkait
Patung dan museum sutradara "Parasite" diusulkan di Korea Selatan
16 Februari 2020 18:04
Outlook Emas 2026 di tengah badai politik
17 jam lalu
Menelisik manfaat program Vorsa UMKM Situbondo
13 Januari 2026 19:57
Kesiapan Situbondo menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35
11 Januari 2026 12:01
"Belajar dulu, baru mabar", cara kaum muda Surabaya sikapi gim
11 Januari 2026 07:51
Menimbang pentingnya sastra lingkungan
10 Januari 2026 12:27
Mencegah meluasnya paparan ideologi kekerasan pada anak
10 Januari 2026 09:52
