Oleh Royke Sinaga Jakarta (Antara) - Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan sejak Sabtu, 3 Agustus 2013 melakukan ibadah umroh ke Tanah Suci, Mekkah, Arab Saudi, bersama istrinya Nyonya Nafsiah Sabri. Namun agaknya bukan Dahlan Iskan, jika tidak pandai memanfaatkan waktu pada setiap kesempatan, dan kini demi memajukan perusahaan milik negara. Meminjam pepatah "ora et labora", sebuah kalimat dalam bahasa Latin, yang artinya adalah berdoalah dan bekerja (berusaha), bisa menjadi gambaran apa yang dilakoni Dahlan Iskan. Kalimat ini maksudnya ialah supaya seseorang tidak hanya meminta tetapi juga berusaha. Abdul Aziz, Staf Khusus Dahlan Iskan kepada Antara, Selasa dinihari mengatakan, di sela-sela aktivitas umroh Dahlan bertemu dengan Presiden Islamic Development Bank (IDB) Dr Ahmed Mohammed Ali, di Clock Tower, Masjidil Haram, Mekkah. Dahlan meminta dukungan IDB untuk membantu ekspor pesawat-pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia Bandung, melalui fasilitas kredit ekspor lembaga tersebut. Loby yang digencarkan Dahlan, langsung disambut baik IDB, dan siap memberikan fasilitas kredit ekspor bagi Bangladesh calon pembeli pesawat PT DI, dan sejumlah negara lainnya. Dr Ahmed Mohammed Ali sangat antusias menyambut keinginan Dahlan. Ahmed mengaku mengenal baik industri pesawat Indonesia karena pernah diajak Prof BJ Habibie ke Bandung di awal tahun 1990-an. Sebagai salah satu pendiri IDB 39 tahun lalu Indonesia memegang peran penting dalam IDB dan berharap bisa menjalin kerja sama dengan BUMN Indonesia untuk mengembangkan perekonomian Indonesia. Seusai bertemu petinggi IDB, Dahlan melanjutkan kegiatannya dengan melakukan shalat tarawih bersama. Selanjutnya mantan Direktur Utama PT PLN ini melakukan rapat dengan Syekh Bakr Bin Ladin, pemilik sekaligus orang nomor satu Saudi Binladin Group. Pertemuan yang digelar di kantor kelompok usaha Binladin tersebut berlangsung serius tetapi santai, diawali dengan tradisi menghirup wewangian bakar yang merupakan ciri khas Timur Tengah. Saudi Binladin Group menjalin kerja sama dengan PT Waskita Karya sebagai subkontraktor pekerjaan renovasi Mataf Extension, di Mekkah dengan nilai proyek sekitar Rp67,34 miliar. Proyek itu meliputi renovasi Masjidil Haram yang dibangun menjadi 9 lantai untuk jangka waktu penyelesaian Agustus 2015. Dahlan ingin memastikan bahwa Waskita dapat belajar dari pengalaman masa lalu itu, ketika salah kontraktor BUMN justru mengalami kerugian dalam proyek di Arab Saudi. Dengan berkolaborasi dengan "raja kontraktor" di Arab Saudi, Saudi Binladin Group, Waskita bisa menjadi "main contractor" terus mendapatkan proyek berkelanjutan, dari semula pembangunan kampus universitas di Riyadh, pembangunan jalan layang menuju bandara baru Jeddah, dan kini naik kelas ke renovasi/pengembangan Masjidil Haram. Kelompok usaha Saudi Binaden merupakan bagian dari Bin Ladin Group yang tengah menjajaki pengembangan agrinisnis padi seluas 500.000 hektare, di Merauke, Papua dengan investasi sekitar 4 miliar dolar AS. Usai melakukan pembicaraan bisnis dengan IDB, dan petinggi Bin Ladin Group, Dahlan tidak ingin membuang waktu dengan percuma. Pria kelahiran Magetan, 17 Agustus 1951 ini antusias menemui Mahmud Rasr, salah seorang disainer proyek bangunan "The Makkah Royal Clock Tower" atau The Abraj Al Bait Towers. The Makkah Royal Clock Tower dalah sebuah hotel yang dikelola oleh perusahaan hotel dari Canada, yaitu Fairmont Hotel and Resorts. Menara ini memiliki tinggi 601 meter dan jumlah lantai sebanyak 120 lantai. Dengan begitu menara ini menjadi bangunan tertinggi di Arab Saudi, dan hotel tertinggi di dunia. Seusai menemui disainer Clock Tower, Dahlan berkeliling menikmati kemegahan gedung yang dibangun tahun 2004 dan selesai tahun 2012, dengan investasi sekitar 800 juta dolar AS ini. Dahlan sendiri setiap tahun rutin melakukan umroh pada bulan Ramadhan dengan memboyong istri, anak dan cucu. Kali ini Dahlan hanya membawa istrinya, dan staf khusus Abdul Aziz. Mereka dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada Rabu, 7 Agustus 2013. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026