Tidak ada alasan bagi kalian untuk tidak menulis. Mari kita hargai kehadiran para narasumber hebat ini dalam kegiatan ini. Bentuk penghormatan kalian kepada guru yang telah hadir ke pelatihan ini adalah menghasilkan tulisan berbentuk esai.
Ponorogo (ANTARA) - Membuat karya tulis, baik fiksi maupun non-fiksi, tidak harus berasal dari ide-ide besar, karena dari ide sederhana atau receh bisa dihasilkan karya yang bagus atau keren.
Dr Sutejo, MHum, pakar sastra, dalam satu pelatihan menulis esai untuk siswa kelas unggulan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (9/6), menyampaikan bahwa ide dapat ditemukan di sekitar atau dunia yang sedang dihadapi para siswa.
Ia mengajak para siswa untuk mengamati masalah kejiwaan yang sering dihadapi anak remaja, yakni tekanan mental yang salah satunya dipengaruhi oleh konten-konten di media sosial atau terkait kepemilikan gawai jenis tertentu yang harganya sangat mahal.
Sutejo, kemudian mengajak para siswa untuk menggali berbagai tema untuk membuat esai terkait dengan masalah kejiwaan anak muda. Penggerak literasi nasional yang sudah menulis 100 lebih judul buku itu mengajak para siswa membuka google dengan mengetik kata kunci "masalah kejiwaan remaja". Dari kata kunci itu, para siswa disuguhkan berbagai ide, yakni mengenai masalah yang dihadapi oleh anak remaja.
Dengan berbagai ide yang telah disuguhkan oleh google tersebut, para peserta pelatihan dapat memperdalam dengan mengamati fenomena sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Fenomena itu bisa dari teman sebaya, lingkungan keluarga, bahkan kondisi kejiwaan yang dialami oleh diri sendiri.
"Silakan kalian gali fenomena itu lebih dalam, lengkap dengan perilaku yang ditunjukkan oleh orang yang kalian amati," kata lulusan S3 kajian sastra dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Sutejo kemudian mengajak para siswa untuk juga menggali solusi yang bisa ditawarkan kepada pembaca terkait fenomena sosial yang dialami kaum remaja tersebut.
Untuk menyuguhkan solusi, para siswa bisa menggali informasi dari berbagai buku terkait atau lewat wawancara dengan seseorang yang mendalami masalah psikologi, termasuk dengan guru bimbingan konseling (BK) di sekolah.
Sementara itu, Kepala MAN 2 Ponorogo Agung Drajatmono, MPd menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat penting untuk membekali anak-anak didiknya memiliki keterampilan berpikir kritis, sekaligus menuangkannya dalam bentuk tulisan.
Ia berpesan agar anak-anak didiknya memanfaatkan betul momentum pelatihan ini untuk dapat melatih keterampilan menulis dari para narasumber yang telah memiliki pengalaman panjang di bidangnya.
Ketua Program Studi Kelas Unggulan MAN 2 Ponorogo Dian Rakhmawati, MPdI menegaskan bahwa pelatihan ini bukan hanya kegiatan seremonial. Karena itu para peserta ditekankan untuk menghasilkan karya berupa esai. Karya tersebut, nantinya bisa diikutkan dalam lomba, baik di tingkat kabupaten, maupun di ajang yang lebih tinggi.
"Tidak ada alasan bagi kalian untuk tidak menulis. Mari kita hargai kehadiran para narasumber hebat ini dalam kegiatan ini. Bentuk penghormatan kalian kepada guru yang telah hadir ke pelatihan ini adalah menghasilkan tulisan berbentuk esai," katanya.
Sementara itu, Redaktur Karangan Khas (Karkhas) dan Opini Perum LKBN ANTARA Masuki M Astro yang juga menyampaikan materi pengalamannya mengenai penulisan esai menekankan perlunya terus berlatih kepada para siswa.
Jurnalis yang akrab disapa Cak Uki itu menyampaikan kunci menulis dalam "9 P". Kesembilan P itu adalah "praktik, praktik, praktik, praktik, praktik, praktik, praktik, praktik, dan praktik."
Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Dr Sutejo bahwa menulis itu seperti bayi yang baru belajar berjalan atau anak-anak belajar naik sepeda. Hal ini dapat diidentikkan juga dengan orang yang belajar berenang.
"Untuk melatih semua keterampilan di atas, jalan satu-satunya adalah dengan berlatih terus menerus. Kalau mengenai refrensi, generasi kalian sekarang ini sangat diuntungkan oleh kehadiran internet. Untuk sumber refrensi, kalian tidak perlu datang ke perpustakaan atau membeli buku," kata pemilik dan penggagas Sutejo Spektrum Center (SSC) dan penggerak Sekolah Literasi Gratis (SLG) Ponorogo itu.
Meskipun demikian, penulis yang juga praktisi hipnosis itu mengingatkan para siswa agar berhati-hati dengan informasi dari internet. Para siswa harus memastikan kebenaran informasi itu, dengan cara melakukan verifikasi.
Pewarta: Destyan H. SujarwokoEditor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.