Bagi saya, AI menjadi ancaman bagi manusia yang tidak menyadari sejatinya kita. Terlena bergantung pada AI. Tapi, bagi yang selalu sadar sejatinya kita siapa, sampai kapanpun AI hanyalah teman bagi manusia dalam berkreativitas
Ponorogo (ANTARA) - Muhammad Riza Fahmi, mahasiswa yang juga aktivis di Himpunan Mahasiswa Penulis (HMP) Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Ponorogo, mengungkapkan rasa penasarannya terhadap masa depan dunia tulis menulis.
"Bagaimana dengan AI di masa depan terkait aktivitas menulis ini?" Begitu mahasiswa yang akrab disapa Tuya itu bertanya pada kegiatan "Kembur Literasi" oleh pengurus HMP di markas Sutejo Spectrum Center (SSC) Ponorogo, Jawa Timur, Minggu (7/6) malam.
Saya yang didapuk menemani para mahasiswa menggali spirit menulis itu menyampaikan bahwa AI tidak bisa dihindari, sebagaimana perangkat yang membawanya hadir di genggaman kita, yakni telepon seluler atau ponsel.
Hanya saja, saya mengingatkan bahwa sebagai pekerja di dunia kreatif, penggunaan AI memiliki makna ganda seperti pisau bermata dua. Ia dapat membantu kita untuk memperkaya informasi terkait isu yang akan kita tulis. Di sisi lain, ia bisa melenakan, sekaligus menjebak kita untuk selalu bergantung penuh padanya.
Karena itu, kalau kita belum pernah menggunakan jasa AI untuk membuat karya tulis, sebaiknya tidak usah mencoba-coba agar tidak ketagihan. Bagi yang sudah telanjur menikmati bantuan Bang AI, segera berjarak agar tidak terjerumus pada buaiannya.
Banyak alasan mengapa kita perlu berjarak. Ibarat tubuh, otot jiwa yang selama ini kita latih untuk tekun menulis, lama-lama menjadi kendur, ketika kita selalu bergantung pada AI.
Karena itu, penggunaan AI jangan menyentuh ranah gaya menulis. Cukup pada ranah bantuan informasi. Apalagi, informasi yang disediakan oleh AI belum pasti sepenuhnya benar dan layak dipercaya.
Ketika kita menemukan informasi tambahan dari AI untuk memperkaya tulisan, ambillah ia sebagai data mentah. Sikapi dengan skeptis, dengan mempertanyakan di titik mana benar dan salahnya. Tugas kita adalah mengolah kembali data itu dengan rasa dan gaya tulisan kita.
Sementara Dr Sutejo MHum, pembina HMP yang juga penggagas Sekolah Literasi Gratis (SLG) di kampus pencetak guru itu, sepakat bahwa dalam teknik dan gaya menulis, AI bukanlah saingan bagi seseorang penulis.
AI berkembang dalam alur evolusi yang secara titik berangkat, kalah jauh dengan manusia. Manusia sebagai pencipta AI telah menjalani proses evolusi jiwa, hingga ratusan juta tahun. AI menempati posisi sebagai salah satu pemantik bagi manusia modern untuk melanjutkan proses evolusi dalam ranah kreativitas di bidang olah kata dan penyedia informasi.
"Bagi saya, AI menjadi ancaman bagi manusia yang tidak menyadari sejatinya kita. Terlena bergantung pada AI. Tapi, bagi yang selalu sadar sejatinya kita siapa, sampai kapanpun AI hanyalah teman bagi manusia dalam berkreativitas," kata akademisi yang telah menghasilkan 100 lebih judul buku bidang sastra dan pendidikan ini.
Karena itu, pakar sastra yang dalam beberapa tahun belakangan memiliki hobi berkebun ini, tidak pernah bosan menyemangati para mahasiswa dan anak-anak asuhannya untuk terus belajar menulis, baik fiksi maupun non-fiksi.
Melalui rumah buku dan SSC, ia selalu mendorong mahasiswanya untuk belajar dan menggali semangat berproses kepada para penulis lain yang telah lebih dahulu memulai berlatih menghasilkan karya.
Bahkan, rumah kebun tempat aktivitasnya menyalurkan hobi bertani juga tidak luput dari sentuhan literasi. Beberapa kali aktivitas diskusi mengenai sastra, digelar di rumah kebun yang rinbun dan sejuk.
Satu hal yang masih menggelayuti pikirannya adalah Sekolah Literasi Gratis (SLG) yang digagasnya, namun dalam beberapa tahun ini vakum. "SLG ini adalah gerakan hati untuk anak-anak bangsa, sehingga energinya besar. Saya sangat yakin, nanti, SLG akan hidup kembali. Tidak akan ada yang bisa membendung aliran dari gerakan ini," katanya.
Baca juga: Agar guru tidak gagap menulis
Baca juga: Menulis surat cinta untuk ayah dan ibu
Baca juga: Menyulap ide receh menjadi esai keren
Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.