Keberadaan kompetisi ini menjadi salah satu barometer dalam proses pembinaan dan pencarian pemain putri potensial

Malang Raya (ANTARA) - PSSI Kota Malang, Jawa Timur menyatakan penyelenggaraan kompetisi sepakbola khusus pelajar putri MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Malang Seri 2 merupakan wadah membina bibit potensial pesepakbola untuk mengembangkan ekosistem sepakbola wanita.

"Keberadaan kompetisi ini menjadi salah satu barometer dalam proses pembinaan dan pencarian pemain putri potensial," kata Anggota Komite Eksekutif PSSI Kota Malang Bidang Kompetisi Rochman Hadi seusai penyelenggaraan babak final MLSC di Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu.

Oleh karena itu, PSSI Kota Malang berharap turnamen sepakbola antarpelajar putri bisa berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, Program Director MLSC Teddy Tjahjono menyampaikan penyelenggaraan MilkLife Soccer Challenge kali ini menjadi keduanya kalianya setelah pelaksanaan pada 2025.

Total ada 2.161 peserta yang ambil bagian di dalam MLSC Seri 2, sedangkan pada MLSC Seri 1 total peserta 1.918 peserta. 

Para peserta berasal dari ratusan SD dan madrasah ibtidaiyah se-Malang Raya yang bermain di kategori kelompok umur 10 tahun dan 12 tahun.

Ia menyampaikan peningkatan jumlah peserta ini membuktikan bahwa Malang Raya tetap menjadi salah satu daerah yang memiliki gairah besar terhadap sepakbola, selain Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

"Sehingga penyelenggaraan turnamen ini akan terus konsisten dan berkesinambungan," ujarnya.

Pada partai final kelompok usia 10 tahun SD Negeri Tulungrejo 2 sanggup menyabet gelar juara pertama setelah mengalahkan SD Negeri Tanjungsekar 3 dengan skor 3-1.

Sedangkan, SD Negeri Lowokwaru 3 sanggup menyabet gelar juara pertama setelah menghentikan perlawanan SD Negeri Pandanlandung 3 dengan skor 3-0 di partai puncak.  

Dia menambahkan, kualitas para pemain yang bertanding di MLSC Malang begitu merata, situasi ini akan menjadi keuntungan bagi tim All Stars Malang saat mengarungi putaran nasional di Kudus, pada Juni 2026.

"Malang tidak bisa dianggap sebelah mata, mereka akan menjadi kuda hitam," katanya.



Pewarta: Ananto Pradana
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026