Washington (ANTARA) - Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengatakan bahwa Amerika Serikat akan bertindak sangat cepat jika Iran gagal memberikan "jawaban yang 100 persen memuaskan" selama negosiasi yang sedang berlangsung untuk mencapai kesepakatan.

"Benar-benar di ambang batas. Percayalah, jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berjalan sangat cepat," kata Trump kepada wartawan ketika ditanya tentang kemungkinan serangan terhadap Iran.

"Kami semua siap. Kami harus mendapatkan jawaban yang tepat. Itu harus berupa jawaban yang lengkap, 100% benar," imbuhnya.

Dia menambahkan bahwa dalam skenario terburuk, AS dapat bertindak hanya dalam beberapa hari.

"Kami berurusan dengan beberapa orang yang sangat baik... Kami berurusan dengan beberapa orang yang berbakat, dengan kemampuan berpikir yang baik, dan kami cukup terkesan dengan hal itu," kata pemimpin AS tersebut.

"Mudah-mudahan orang-orang itu akan membuat kesepakatan yang akan menguntungkan semua orang," imbuhnya.

Pada Selasa, Trump mengatakan Amerika Serikat dapat melancarkan serangan baru terhadap Iran paling cepat pada 22 Mei atau awal pekan depan.

Pada Senin, presiden AS itu mengatakan bahwa ia telah menangguhkan serangan tersebut menyusul permintaan dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Dia menambahkan bahwa permintaan tersebut diajukan karena adanya "negosiasi serius" yang sedang berlangsung, yang menurut para pemimpin Timur Tengah dapat menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima oleh Amerika Serikat.

Namun, Trump mengatakan bahwa Washington tetap siap melancarkan serangan skala besar kapan saja jika tidak tercapai kesepakatan.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sasaran di Iran, sehingga menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.

Perundingan di Islamabad berakhir tanpa hasil, dan Trump memperpanjang gencatan senjata untuk memberi waktu kepada Iran untuk mengajukan "proposal terpadu."

Sumber: Sputnik/RIA Novosti​​​​​​​



Pewarta: Katriana
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026