Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Kabupaten Lumajang di Jawa Timur ditetapkan sebagai percontohan nasional implementasi program Benteng Bencana Indonesia, yakni sebuah model kolaboratif yang menempatkan ketahanan masyarakat sebagai pondasi utama dalam menghadapi bencana alam.
"Terpilihnya Lumajang sebagai pilot project nasional merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan masyarakat, terutama di kawasan yang selama ini hidup berdampingan dengan risiko erupsi Gunung Semeru dan bencana hidrometeorologi lainnya," kata Bupati Lumajang Indah Amperawati dalam keterangannya di kabupaten setempat, Kamis.
Menurut dia program itu menandai penguatan strategi mitigasi yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kesiapan sosial, ekonomi, dan edukasi masyarakat di wilayah rawan.
"Kabupaten Lumajang memiliki tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi. Dari 13 jenis potensi bencana di Indonesia, sebanyak 12 di antaranya terdapat di Lumajang," tuturnya
Kondisi tersebut menjadikan Lumajang sebagai salah satu wilayah dengan tantangan mitigasi paling kompleks di Jawa Timur.
Berdasarkan data tahun 2025, tercatat sebanyak 161 kejadian bencana terjadi di Lumajang, salah satu yang paling berdampak adalah erupsi Gunung Semeru pada November 2025 yang melanda wilayah Kecamatan Pronojiwo, khususnya Desa Supiturang.
"Dampaknya tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat dan memengaruhi kondisi sosial warga," katanya.
Menurut dia penanganan bencana selama itu kerap dipahami sebatas pembangunan kembali fasilitas umum atau pemulihan infrastruktur. Padahal tantangan paling berat justru muncul pada fase pascabencana, ketika masyarakat harus kembali membangun kehidupan, memulihkan pendapatan, serta menghadapi trauma sosial yang tidak selalu terlihat.
"Pemkab Lumajang mendorong penguatan ekonomi masyarakat terdampak sebagai bagian penting dari proses pemulihan. Pelatihan keterampilan, pemberdayaan usaha kecil, hingga penumbuhan sumber ekonomi baru menjadi strategi yang dipandang penting untuk mengurangi kerentanan warga pascabencana," katanya.
Ia menjelaskan banyak penyintas yang kehilangan pekerjaan atau tidak lagi dapat menjalankan mata pencaharian seperti sebelumnya. Dalam kondisi itu, pemulihan tidak cukup hanya dengan bantuan logistik atau rehabilitasi bangunan, tetapi juga harus menyentuh aspek keberlanjutan ekonomi keluarga.
Selain itu, edukasi kebencanaan menjadi pilar penting dalam program Benteng Bencana Indonesia. Kehadiran Mobile Museum diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya pelajar, mengenai karakter bencana, sejarah kejadian, serta langkah mitigasi yang tepat saat kondisi darurat.
"Pemerintah menilai literasi kebencanaan merupakan investasi jangka panjang untuk menekan risiko korban jiwa. Masyarakat yang memahami ancaman dan prosedur penyelamatan akan memiliki kesiapsiagaan lebih baik dalam menghadapi situasi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu," katanya.
Program itu juga menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana membutuhkan kolaborasi multipihak dengan keterlibatan pemerintah, yayasan sosial, komunitas, hingga masyarakat desa menjadi kekuatan bersama dalam membangun sistem ketahanan yang lebih berkelanjutan.
"Bagi Lumajang, program itu bukan sekadar proyek percontohan, tetapi bagian dari upaya membangun budaya tangguh di tengah wilayah yang hidup dalam ancaman bencana berulang," ujarnya.
Pewarta: Zumrotun SolichahEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026