Saya berharap proses SNI jangan sampai tertinggal. Kalau produk sudah masuk luar negeri dan ada bukti ekspornya, maka sertifikasi harus segera diproses agar UMKM bisa berkembang lebih cepat.
Surabaya (ANTARA) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Bambang Haryo Soekartono mendorong percepatan penerbitan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Saya berharap proses SNI jangan sampai tertinggal. Kalau produk sudah masuk luar negeri dan ada bukti ekspornya, maka sertifikasi harus segera diproses agar UMKM bisa berkembang lebih cepat,” ujarnya saat mengunjungi UMKM sambal di Siwalankerto Surabaya, Kamis.
Ia menilai proses sertifikasi SNI seharusnya dapat dipercepat, terutama bagi produk yang telah memiliki rekam jejak pemasaran internasional.
Menurut dia, keberhasilan produk UMKM masuk pasar ekspor menjadi bukti bahwa kualitas dan standar produknya telah memenuhi kebutuhan konsumen global sehingga proses sertifikasi di dalam negeri tidak perlu berbelit.
Menurut Bambang Haryo, produk sambal milik pelaku UMKM Ninik tersebut telah dipasarkan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga ke sejumlah negara seperti Polandia, Hong Kong, Taiwan, Singapura, dan Korea Selatan.
Bambang Haryo juga menyatakan telah berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk lembaga mitra Komisi VII DPR RI, untuk membantu percepatan pengurusan sertifikasi tersebut.
Ia menambahkan biaya sertifikasi kerap menjadi kendala bagi UMKM, terutama di tengah kenaikan harga bahan baku dan fluktuasi nilai tukar dolar AS.
Karena itu, ia meminta agar pembiayaan sertifikasi dapat diringankan melalui dukungan anggaran pemerintah sehingga tidak menghambat pelaku usaha memperoleh legalitas produk.
“Jangan sampai UMKM yang sudah berprestasi ekspor justru terkendala biaya sertifikasi. Kalau perlu biayanya diperingan agar pengusaha lebih cepat mendapatkan jaminan mutu produk,” katanya.
Sementara itu, pelaku UMKM Sambal Ning Niniek, Ninik, mengaku terbantu dengan dukungan yang diberikan dalam proses pengurusan SNI produknya.
Ia mengatakan selama ini sebagian besar anggaran usaha difokuskan untuk kebutuhan produksi akibat kenaikan harga bahan baku sehingga pengurusan sertifikasi belum dapat diprioritaskan.
Ninik menjelaskan produk sambalnya saat ini telah dipasarkan di berbagai kota di Indonesia dan tersedia di sejumlah pusat oleh-oleh maupun ritel modern.
Produk tersebut, kata dia, juga dipasarkan melalui agen ekspor ke beberapa negara seperti Polandia, Hong Kong, Taiwan, dan Singapura, serta tengah menjalani proses negosiasi pasar Malaysia.
Adapun varian produk yang paling diminati konsumen yakni sambal tuna asap dan bumbu hitam.
Pewarta: Faizal FalakkiEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026