Kota Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo mendorong kemandirian ekonomi bagi warga kurang mampu dengan meluncurkan program budidaya burung puyuh yang diawali dengan kegiatan pelatihan serta penyerahan bantuan sarana budidaya.

"Program itu merupakan proyek strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya bagi warga desil 1 dan 2," kata Wali Kota Probolinggo Aminuddin dalam sambutannya di Kota Probolinggo, Jawa Timur, Rabu.

Menurutnya program itu merupakan pilot project yang akan dipantau secara serius yang apabila berhasil bisa menjadi model nasional dalam pengentasan kemiskinan.

Ia juga menekankan pentingnya manajemen keuangan dan kedisiplinan dalam perawatan ternak, mulai dari pemberian pakan, kebersihan kandang, hingga pencatatan produksi harian.

"Secara hitung-hitungan, dalam 5-6 bulan sudah bisa balik modal. Namun kunci keberhasilan ada pada manajemen dan keseriusan peternaknya," tuturnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan kegiatan itu bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan teknis dalam mengelola peternakan secara baik, benar, dan efisien.

"Untuk memberdayakan masyarakat agar memiliki alternatif pekerjaan yang dapat meningkatkan pendapatan, memperkuat komunikasi antara dinas dan peternak, serta menjadi upaya pengurangan pengangguran dan pengentasan kemiskinan," katanya.

Ia menjelaskan bahwa bantuan diberikan dalam skala besar agar hasilnya lebih signifikan terhadap perekonomian penerima manfaat, dengan jumlah burung puyuh yang disalurkan mencapai 1.000 ekor.

Berdasarkan analisa usaha, Fitriawati mengatakan harga telur burung puyuh sekitar Rp26.000 per kilogram dan produksi mencapai 4.500 kilogram per tahun, sehingga usaha itu diproyeksikan mampu memberikan laba bersih sekitar Rp2 juta per bulan. 

"Burung puyuh yang diberikan pun telah berusia 40 hari atau siap bertelur, sehingga dalam waktu sekitar dua minggu sudah dapat menghasilkan telur," ujarnya.



Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026