Surabaya (ANTARA) - Oleh Dr. Leliy Kholida, M.Ag.
Kasus dugaan kekerasan di sebuah daycare di Yogyakarta kembali mengguncang publik. Sebagai seorang ibu yang punya anak dan dosen pendidikan agama Islam, penulis melihat kejadian ini bukan sekadar peristiwa tragis yang berdiri sendiri, melainkan penanda dari persoalan yang lebih dalam: krisis pengasuhan anak di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang semakin kompleks. Di balik maraknya layanan daycare, tersimpan pertanyaan yang jarang diajukan secara serius—apakah kita sedang menyelesaikan masalah pengasuhan, atau justru sedang menciptakan masalah baru?
Ketika Waktu Keluarga Semakin Menyempit
Perubahan pola kehidupan modern telah menggeser cara keluarga mengasuh anak. Tuntutan ekonomi mendorong semakin banyak orang tua (terutama ibu) untuk bekerja penuh waktu. Waktu yang dahulu menjadi ruang interaksi antara orang tua dan anak kini semakin terbatas. Dalam kondisi seperti ini, daycare hadir sebagai solusi praktis.
Namun, solusi ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia muncul dari tekanan struktural—biaya hidup yang meningkat, kebutuhan ekonomi yang mendesak, serta terbatasnya dukungan sosial terhadap keluarga. Daycare bukan lagi sekadar pilihan, melainkan konsekuensi dari sistem yang menuntut produktivitas tanpa selalu mempertimbangkan dimensi pengasuhan.
Pengasuhan yang Berpindah Tangan
Dalam banyak keluarga, pengasuhan anak kini tidak lagi sepenuhnya berada di tangan orang tua. Ia berpindah ke institusi, kepada tenaga profesional yang dibayar untuk menjalankan fungsi yang sebelumnya bersifat personal. Pergeseran ini menandai transformasi besar: pengasuhan tidak lagi berbasis relasi, tetapi berbasis layanan.
Tentu, tidak semua perpindahan ini bermasalah. Banyak daycare yang berusaha memberikan layanan terbaik. Namun, persoalannya bukan pada keberadaan daycare itu sendiri, melainkan pada sejauh mana sistem yang mengelilinginya mampu menjamin kualitas, keamanan, dan nilai pengasuhan.
Ketika pengasuhan berpindah tangan tanpa pengawasan yang memadai, risiko yang muncul tidak bisa dianggap kecil.
Di Antara Kebutuhan dan Kerentanan
Daycare hadir untuk menjawab kebutuhan, tetapi sekaligus membuka ruang kerentanan. Anak-anak yang dititipkan sepenuhnya bergantung pada sistem yang tidak selalu transparan. Orang tua mempercayakan anaknya dengan harapan keamanan dan perhatian, tetapi dalam banyak kasus, harapan tersebut tidak selalu sejalan dengan realitas.
Kasus kekerasan yang mencuat ke publik menunjukkan bahwa ada celah serius dalam sistem pengasuhan berbasis layanan ini. Lemahnya pengawasan, tidak meratanya standar kualitas, serta minimnya regulasi membuat sebagian daycare beroperasi jauh dari ideal.
Di titik ini, anak menjadi pihak yang paling rentan—tanpa kemampuan untuk melindungi diri, tanpa ruang untuk bersuara.
Krisis yang Lebih Dalam dari Sekadar Kasus
Jika dilihat lebih jauh, persoalan ini bukan hanya tentang daycare, tetapi tentang krisis pengasuhan yang lebih luas. Keluarga modern menghadapi dilema: di satu sisi, tuntutan ekonomi tidak bisa dihindari; di sisi lain, kebutuhan anak akan kehadiran orang tua tetap tidak tergantikan.
Krisis ini bukan sekadar kekurangan fasilitas, tetapi juga kekosongan dalam cara kita memandang pengasuhan. Ia tidak lagi ditempatkan sebagai prioritas utama dalam kebijakan publik, melainkan dianggap sebagai urusan privat yang harus diselesaikan masing-masing keluarga.
Padahal, pengasuhan anak adalah fondasi bagi kualitas generasi masa depan.
Ketika Negara Datang Terlambat
Ketiadaan sistem pengawasan yang kuat menunjukkan bahwa negara belum sepenuhnya hadir dalam persoalan ini. Banyak daycare beroperasi tanpa standar yang jelas, tanpa pengawasan yang memadai, dan tanpa mekanisme perlindungan yang kuat bagi anak.
Dalam situasi seperti ini, pasar bergerak lebih cepat daripada regulasi. Layanan daycare tumbuh mengikuti permintaan, tetapi tanpa jaminan kualitas yang sepadan. Negara sering kali baru hadir setelah masalah terjadi—ketika kasus mencuat, Ketika viral dan publik bereaksi.
Pertanyaannya, sampai kapan perlindungan anak bergantung pada reaksi, bukan pencegahan?
Pengasuhan sebagai Tanggung Jawab Kolektif
Pengasuhan anak tidak bisa dipahami semata sebagai tanggung jawab individu atau keluarga. Ia adalah tanggung jawab kolektif—melibatkan negara, masyarakat, dan sistem sosial-ekonomi secara keseluruhan. Tanpa dukungan yang memadai, keluarga akan terus berada dalam posisi yang rentan.
Dalam perspektif nilai, pengasuhan adalah amanah yang tidak bisa sepenuhnya dialihkan. Anak tidak hanya membutuhkan penjagaan fisik, tetapi juga kehadiran emosional, perhatian, dan nilai-nilai yang membentuk karakter. Dimensi ini tidak mudah digantikan oleh sistem layanan, jasa sebaik apa pun desainnya.
Karena itu, memperkuat pengasuhan bukan hanya soal menyediakan fasilitas, tetapi juga memastikan bahwa sistem yang ada tetap berpihak pada kebutuhan terbaik anak.
Masa Depan yang Dipertaruhkan
Krisis pengasuhan anak adalah persoalan jangka panjang yang dampaknya tidak selalu terlihat segera. Ia menyangkut pembentukan karakter, keamanan emosional, dan kualitas manusia di masa depan. Ketika pengasuhan tidak berjalan dengan baik, konsekuensinya akan dirasakan jauh melampaui ruang keluarga.
Daycare mungkin menjadi bagian dari solusi, tetapi ia tidak bisa menjadi satu-satunya jawaban. Tanpa sistem yang kuat, tanpa regulasi yang jelas, dan tanpa kesadaran kolektif, ia justru berpotensi memperdalam krisis yang ingin diatasi.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar di mana anak dititipkan, tetapi bagaimana kita memastikan bahwa mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh perhatian, dan bermakna. Sebab masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas pengasuhan generasinya.
*) Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Kendari
Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026