Tapi kita harus bisa menyeimbangkan yang tidak seimbang

Surabaya (ANTARA) - Bunda Intan menjalani peran ganda sebagai ibu sekaligus pemimpin dua usaha travel haji dan umrah selama hampir 16 tahun, mencerminkan semangat Kartini dalam menghadapi tanggung jawab hidup dengan keteguhan dan makna sederhana.

"Ini bukan keterpaksaan. Ini amanah,"  ujarnya dalam keterangan di Surabaya, Rabu.

Hampir 16 tahun, ia berdiri di dua dunia sekaligus—di rumah sebagai ibu, di luar sebagai pemimpin Intanaya Travel Haji Umroh dan Al-Mawaddah Travel Haji Umroh. Dua peran besar tersebut dijalaninya tanpa menganggapnya sebagai beban.

Bunda Intan memandang perempuan memiliki kekuatan yang kerap tidak terlihat. Ia meyakini perempuan adalah tiang negara karena perannya dalam melahirkan dan membentuk generasi masa depan.

“Kadang, kita merasa merdeka. Tapi sebenarnya hanya berpindah dari satu tekanan ke tekanan lain,” katanya.

Menurutnya, kebahagiaan tidak selalu rumit dan dapat ditemukan dalam hal-hal sederhana, seperti melihat anak tumbuh sehat dan memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah.

“Bukan berarti wanita itu susah untuk bahagia,” katanya.

Ia menilai pilihan antara karier dan keluarga bukan untuk dipertentangkan, melainkan dijalani secara bersamaan sebagai bagian dari tanggung jawab hidup.

“Dua-duanya harus dijalani,” tegasnya.

Kelelahan, lanjutnya, merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan, namun bukan menjadi alasan untuk berhenti menjalani peran yang ada.

“Begitu pulang, ketemu anak, lelah itu hilang," ujarnya.

Dalam menjalankan usaha travel haji dan umrah, ia berupaya menyeimbangkan antara logika bisnis dan empati terhadap jamaah sebagai bagian dari pelayanan.

“Saya ingin jamaah mendapatkan yang terbaik,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kemampuan menyeimbangkan kehidupan meski tidak selalu berjalan ideal, dengan tetap berpegang pada rasa syukur.

“Tapi kita harus bisa menyeimbangkan yang tidak seimbang,” ujarnya.

Bunda Intan menilai kekuatan perempuan juga terletak pada kemampuan saling menguatkan satu sama lain dalam berbagai peran kehidupan.

“Wanita yang kuat bukan hanya yang bisa bertahan. Tapi yang bisa menguatkan wanita lain,” katanya.

Pada peringatan Hari Kartini, kisahnya menjadi cerminan bahwa emansipasi perempuan masa kini tidak hanya tentang kebebasan memilih, tetapi juga keberanian bertanggung jawab serta menemukan makna dalam setiap peran kehidupan.



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026