Saat ini kita sedang menyaksikan momentum langka di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Di tengah fluktuasi pasar awal tahun 2026
Surabaya (ANTARA) - Pengamat pasar modal Rendy Yefta mengatakan terdapat momentum dan kesempatan langka yakni saat para direksi memborong saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di tengah fluktuasi pasar awal 2026.
"Saat ini kita sedang menyaksikan momentum langka di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Di tengah fluktuasi pasar awal tahun 2026, alih-alih bersikap defensif, jajaran petinggi BCA justru agresif menyerok saham mereka sendiri," katanya di Surabaya, Senin.
Rendy mengatakan langkah itu bukan sekadar transaksi biasa melainkan eksekusi strategi buy on weakness yaitu membeli aset premium saat harganya sedang terdiskon.
Menurutnya, aksi borong ini menjadi bukti kuat bahwa pihak yang paling memahami kondisi “dapur” perusahaan memiliki keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang BCA.
Ia menjelaskan keyakinan manajemen ini sangat sejalan dengan realitas valuasi sahamnya, namun ukuran yang lebih tepat untuk membandingkan saham bank bukan lagi PBV melainkan PER (Price to Earnings Ratio).
Hal itu lantaran PER menunjukkan berapa lama investor “membayar” harga saham dari laba yang dihasilkan perusahaan.
Rendy menuturkan saham BBCA hanya diperdagangkan di kisaran PER sekitar 15 kali yang artinya investor hanya membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar, paling efisien, dan paling konsisten mencetak keuntungan di Indonesia.
Sekarang bandingkan dengan Bank Jago (ARTO), kata dia, diperdagangkan di sekitar PER 64 kali yang artinya investor harus membayar valuasi lebih dari empat kali lebih mahal dibanding BBCA untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan.
Bahkan yang membuat situasinya terasa “gila” adalah kemampuan mencetak laba antara kedua bank tersebut sangat berbeda karena BCA sudah terbukti mampu menghasilkan laba puluhan triliun rupiah secara konsisten dan bertumbuh cepat.
Sementara bila dibandingkan dari kemampuan memperbesar laba lima kali lipat maka secara realistis BCA justru berpotensi mencapainya lebih cepat dibanding ARTO karena basis bisnisnya sudah besar, jaringan kuat, CASA dominan, dan profit terus naik setiap tahun.
Oleh sebab itu, Rendy menyebutkan hal tersebut menimbulkan pertanyaan terkait bank digital yang masih jauh lebih kecil, labanya lebih rendah, dan risikonya lebih tinggi justru dihargai 64 kali laba sedangkan BCA yang jauh lebih mapan hanya dihargai 15 kali laba.
Ia mengungkapkan fenomena ini disebut “salah harga” yaitu pasar seolah sedang memberi diskon besar kepada saham BBCA.
"Ketika investor mulai menyadari ketimpangan ini, biasanya yang terjadi adalah valuasi BBCA akan naik kembali menuju level yang lebih wajar," ujarnya.
Jika BBCA kembali dihargai sedikit lebih tinggi misalnya PER 18–20 kali seperti rata-rata historisnya maka harga sahamnya berpotensi naik signifikan dari level sekarang dengan target menembus Rp10.000 per lembar dalam beberapa bulan menjadi skenario yang sangat realistis.
Rekor pun pernah mencatat saham ini pernah nyaris menyentuh Rp11.000 per lembar yang artinya ruang kenaikan masih terbuka lebar sehingga risiko relatif kecil karena fundamentalnya sangat kuat dengan potensi keuntungannya besar karena valuasinya masih terlalu murah.
Pewarta: Astrid Faidlatul HabibahEditor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA 2026