Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Ibrahim menyatakan konsumsi rumah tangga Jawa Timur yang kuat dapat menjadi penyangga saat terjadi krisis.
"Ekonomi Jawa Timur ini dengan kontribusi 60 persen konsumsi masyarakat tentu lebih berdaya tahan karena dia lebih bersifat internal sedangkan datangnya dinamika ini tantangan ini kan dari luar negeri," katanya di Surabaya, Selasa.
Ibrahim menuturkan ekonomi Jawa Timur pada triwulan IV 2025 yang tumbuh inklusif 5,85 persen secara year-on-year (yoy) didukung 60 persen oleh konsumsi rumah tangga.
Menurutnya, daerah dengan struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang lebih dominan pada konsumsi rumah tangga memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan daerah dengan struktur PDRB yang dominan pada ekspor ketika terjadi krisis global.
Oleh sebab itu, pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat serta tingkat inflasi di Jawa Timur termasuk melalui pemberian bantuan sosial (bansos).
Terlebih, Jawa Timur menjadi lumbung pangan nasional karena banyak komoditas yang digunakan sebagai sumber pangan nasional seperti daging ayam mencapai 22,4 persen, susu 57,9 persen, jagung 30,4 persen, pisang 28 persen, padi 20 persen untuk pasokan nasional, cabai 37 persen, telur 31 persen, dan daging 20 persen.
"Jadi dengan ketahanan pangan yang ada di Jawa Timur dengan keragaman yang ada maka ini menjadi modalitas utama," kata Ibrahim.
Pewarta: Astrid Faidlatul HabibahEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026