Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membuka peluang pemberian insentif perpajakan bagi industri emas guna memperkuat pengembangan ekosistem bank emas (bullion bank) di Indonesia.

Pemerintah bakal terus mendorong kemudahan usaha di sektor bullion sekaligus meninjau sejumlah kebijakan perpajakan yang bisa mendukung stabilitas nilai emas serta keamanan penyimpanannya.

"Kita lihat apa insentif lain yang perlu kita dorong agar emas ini bisa dijaga secara nilai, namun juga aman dari segi fisik," kata Airlangga dalam acara Launching Indonesia Bullion Ecosystem Roadmap di Jakarta, Jumat.

Airlangga mengatakan penguatan ekosistem bullion bank diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Dengan berbagai hal tersebut, sekali lagi bullion emas yang sudah dirintis dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.

Selain insentif pajak, Menko juga mendorong agar perdagangan emas lebih banyak dilakukan di dalam negeri. Kebijakan ini bertujuan menjaga pasokan bahan baku bagi industri perhiasan nasional.

"Kalau sekarang kan kita dorong supaya emas itu diperdagangkan di dalam negeri dengan bea keluar, dan juga untuk mendukung ketersediaan bahan baku bagi industri perhiasan," tambah dia.

Meski demikian, insentif perpajakan tersebut masih dalam tahap pengkajian. Pemerintah masih akan meminta masukan dari pelaku industri terkait kebutuhan insentif tambahan.

"Ke depan nanti tanyakan ke para pelaku usahanya masih butuh insentif tambahan atau sudah cukup," tuturnya.

Adapun Airlangga juga menyampaikan bahwa jumlah nasabah bank emas (bullion bank) mengalami peningkatan signifikan dalam setahun terakhir, dari 3,2 juta orang pada Februari 2025 menjadi 5,7 juta orang saat ini.

Sebelumnya, layanan bank emas resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025. Saat itu, PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi dua lembaga keuangan pertama yang memperoleh izin menjalankan layanan tersebut.

"Jumlah yang digadaikan di Pegadaian, nilai emasnya meningkat menjadi 144,7 ton dari 94 ton. Mereka yang sudah memanfaatkan menjadi pinjaman juga naik sebesar 38,5 ton atau senilai Rp102 triliun. Demikian pula di BSI itu juga meningkat, sekarang sudah mencapai 22 ton," kata Airlangga.



Pewarta: Bayu Saputra
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026