Jakarta (ANTARA) - Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan mata uang rupiah pada Senin (2/3) ini bakal bergerak melemah imbas dari perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Rupiah diprediksi melemah di kisaran Rp16.750-Rp16.900 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda disebabkan adanya kecenderungan pelaku pasar untuk menghindari aset berisiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
"Rupiah diperkirakan akan melemah dan bergerak volatile terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off dari eskalasi perang di Timur Tengah," kata Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Meski demikian, lanjutnya, Bank Indonesia (BI) dinilai akan segera mengintervensi.
Adapun nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin pagi, bergerak melemah 42 poin atau 0,25 persen menjadi Rp16.829 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.787 per dolar AS.
Diberitakan sebelumnya, pada Sabtu pagi (28/2) waktu setempat, Amerika Serikat dan Zionis Israel melancarkan serangkaian serangan ke Iran, termasuk ibu kota Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa rakyat sipil.
Iran kemudian melancarkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dikonfirmasi syahid akibat serangan rudal AS-Israel terhadap tempat kerjanya.
Menyusul wafatnya Khamenei, pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan libur kerja selama seminggu.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Darat Iran, dalam pernyataan tertulis mereka, bersumpah akan membalas kematian Khamenei.
