Bojonegoro (Antaranews Jatim) - Komisi C DPRD Bojonegoro, Jawa Timur, meminta PT Rekayasa Industri (Rekind) selaku kontraktor proyek unitisasi pengembangan lapangan gas Jambaran-Tiung Biru (TBR) melibatkan kontraktor lokal  sebagai usaha memberdayakan ekonomi lokal.

"Kami minta Rekind melibatkan kontraktor lokal agar bisa ikut bekerja dalam menggarap proyek gas JTB," kata Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro Teuku Iskandar, Senin.

Hal senada juga disampaikan Ketua Komisi C DPRD Sallya Atyasasmi yang memimpin dengar pendapat dengan jajaran PT Rekind yang juga dihadiri perwakilan Pertamina EP Cepu dan Kepala Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan Agus Supriyanto.

"Pak Iskandar tahu persis ketika proyek Blok Cepu dulu banyak kontraktor lokal merugi, karena faktor pembayarannya yang lama," ujar Sally menambahkan.

Menurut Iskandar, kontraktor lokal menderita kerugian dalam mengerjakan proyek kalau pekerjaan yang sudah diselesaikan tidak segera dibayarkan.

"Kalau pekerjaan proyek dibayar enam bulan setelah proyek selesai, apalagi setahun baru dibayar maka kontraktor lokal akan mati," ujarnya menegaskan.

Paling tidak, menurut dia, dibenarkan Sally, pembayaran pekerjaan proyek pengembangan gas JTB harus bisa dilakukan maksimal paling lama tiga bulan.

"Kontraktor lokal itu modalnya tidak banyak. Kalau membayarnya terlambat ya jelas rugi," ujar Sally.

Pada kesempatan dengar pendapat, "Site Project Manager" PT Rekind Zaenal Arifin menjelaskan Rekind akan menggelar tender proyek pengembangan unitisasi lapangan gas JTB pada April-Mei dengan jadwal pelaksanaan proyek pada Agustus.

Namun, lanjut dia, sebelum ini Rekind sudah mulai mengerjakan pekerjaan fisik proyek yaitu perumahan dan pekerjaan pembangunan fasilitas pemprosesan gas JTB.

Direktur PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS), BUMD Pemkab Bojonegoro Tony Ade Irawan yang ikut dengar pendapat menambahkan PT BBS pernah ikut tender proyek yang dilaksanakan Rekind.

Namun, kata dia, BBS kalah dalam tender, tapi ketika dikonfirmasi kepada pihak PT Rekind terkait pemenangnya memperoleh jawaban bahwa perusahaan tidak bisa mengumumkan.

"Ya kalau begitu hanya Tuhan dan Rekind yang tahu pemenang tender di proyek gas JTB," ucapnya.

Proyek unititasi pengembangan gas JTB diawali dengan peletakkan batu pertama oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan pada 25 September 2017.

Proyek dengan dengan investasi sebesar 1,547 miliar dolar Amerika Serikat bisa berjalan setelah ada pengurangan "plant of development" (POD) dari 2,1 miliar dolar Amerika Serikat menjadi 1,547 miliar dolar Amerika Serikat.

Selain itu juga ada kesepakatan antara PT Pertamina EP dengan PLN sebagai pembeli gas JTB dengan harga 7,6 dolar Amerika Serikat/juta standar kaki kubik per hari (million metric standard cubic feet per day/MMSCFD). (*)

Pewarta: Slamet Agus Sudarmojo

Editor : Masuki M. Astro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2018