Surabaya (Antara Jatim) - Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Surabaya melakukan gerakan peduli mangrove dengan penanaman pohon mangrove di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo Rungkut Surabaya, sedangkan SMP Hidayatullah peduli batik dengan pembelajaran membatik. "Kegiatan LDII bersama MUI dan FKUB Surabaya itu merupakan kelanjutan dari pencanangan 'LDII Go Green' secara nasional di Makassar pada 2010 dan Gerakan Cinta Bahari di Kendari pada 2011," kata Humas Acara, Widi Yunani, di Surabaya, Minggu (24/11). Ia menjelaskan target LDII Go Green adalah menanam sejuta pohon di seluruh Indonesia, sedangkan target Gerakan Cinta Bahari adalah menanam 3.000 bibit mangrove. "Kerusakan alam terjadi akibat menurunnya daya dukung lingkungan dan bencana alam membutuhkan perbaikan dan perawatan lingkungan hidup, karena itu kami menyikapi kondisi tersebut dengan melakukan penanaman pohon mangrove di Wonorejo, Rungkut, Surabaya yang melibatkan 350-an orang," katanya. Menurut dia, Ekowisata Mangrove Wonorejo yang berbatasan dengan Pantai Timur Surabaya amat rentan terhadap abrasi. Untuk itu mangrove memiliki peran penting sebagai perisai untuk menahan abrasi sekaligus sarana menetralkan polutan. "Dari sekitar 28 jenis mangrove, 25 jenis di antaranya terdapat di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo. Adapun jenis mangrove yang ditanam adalah Rhizopora Apiculata yang memiliki kekuatan bertahan terhadap rendaman air laut dan hempasan gelombang karena memiliki akar tunjang yang kuat," katanya. Cinta Batik Sementara itu, 20-an siswa SMP Putri Luqman Al Hakim Hidayatullah Surabaya belajar teknik membatik untuk mencintai budaya dan seni dalam negeri. Puluhan siswa itu membuat pola di atas kain putih jenis prima. Para siswa tersebut menggambar berbagai jenis bentuk mulai bentuk bunga, bentuk tak beraturan, atau bentuk sesuai kreativitas siswa. Siswa menuangkan lilin khusus untuk batik yang telah dipanaskan di atas kuali/wajan, kemudian melekatkannya di atas kain dengan menggunakan canting sesuai dengan alur motif. Menurut guru SMP Putri Luqman al Hakim Hidayatullah Surabaya, Amin Rahayu, kegiatan ini untuk menanamkan cinta kepada produk dalam negeri. "Tapi tidak sekadar cinta, lebih jauh hingga tahap proses membuatnya, seperti tahap nglowong, nerusi, dan isen-isen. Untuk membatik, telaten adalah kuncinya. Harus sabar," katanya. Salah satu siswi, Dila, mengatakan senang mendapat pengenalan tentang batik tulis itu. "Saya jadi mengerti bagaimana alur membuat batik itu," katanya. (*)

Pewarta:

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2013