Pacitan - Industri kerajinan batik tulis di Kabupaten Pacitan terus berkembang sehingga omzet penjualan hingga akhir 2012 ditargetkan tembus Rp9 miliar. Target itu naik sekitar Rp1,9 miliar dibanding kemampuan produksi dan penjualan 2011, kata Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Pacitan Hery Purwanto, Sabtu. "Terhitung hingga triwulan ketiga, akhir September kemarin, omsetnya penjualan batik tulis Pacitan telah mencapai Rp7,6 miliar. Jadi sangat wajar jika kami mematok target akhir tahun sebesar Rp9 miliar. Tahun lalu terhitung sekitar Rp8,1 miliar," katanya. Geliat industri batik tulis ini setidaknya sudah terlihat dari meningkatnya jumlah produksi para perajin. Sebagaimana data Diskopindag, jumlah total produksi batik tulis pada 2011 tercatat mencapai 28.460 potong, sementara tahun ini dengan nilai omzet lebih sedikit jumlah produksinya justru mencapai 30.180 potong. Kenaikan omset maupun volume produksi batik tulis tersebut tidak lepas dari tingginya animo para perajin untuk mengikuti pameran. Sebab, dengan keikutsertaan itu mampu membantu membuka pangsa pasar batik. Oomzet yang dikantongi para pengusaha komoditas batik tulis dari tahun ke tahun bahkan terus bertambah seiring kian banyaknya permintaan dari luar daerah. Selain perkembangan pasar, tingginya omzet industri batik tulis di Kabupaten Pacitan juga didasarkan pada jenisnya, karena produksi dilakukan hasil olahan/kerajinan tangan langsung ("hand made") dan pewarnaannya dilakukan dengan bahan-bahan pewarna alami sehingga harga satuannya juga lebih mahal. Perpotongnya konon dijual dengan harga di kisaran Rp200-500 ribu per lembar. Diskopindag mencatat, tahun 2011 kontribusi atas produk total batik tulis terbanyak disumbangkan industri batik canting jaya II dengan nilai Rp2,4 miliar. Peruntungan itu kemudian diikuti Batik Saji di Kecamatan Pacitan dengan nilai sekitar Rp1,7 miliar. Setahun kemudian donasi bergeser ke batik saji dengan nilai Rp2,1 miliar dan batik canting Jaya II Rp1,9 miliar. Pangsa pasar industri seni rumahan ini cukup luas, meliputi berbagai kota besar di Pulau Jawa dan Kalimantan, seperti Surabaya, Malang, Madiun, Lumajang, dan Sumenep. "Juga dari luar Jatim, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Bali," ungkapnya.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026