Malang - Wilayah Kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu atau Malang Raya, akan segera diguyur hujan buatan sebanyak 36 kali selama akhir Oktober hingga November mendatang.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) hujan buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) F Heru Widodo, Selasa, mengatakan, hujan buatan sebanyak 36 kali ini masih akan dievaluasi hasilnya, apakah akan disetop atau dilanjutkan.
"Kami akan lakukan evalusi pada 20 hari pertama bagaimana hasilnya, sehingga kami bisa mengambil langkah, apakah tetap dilanjutkan atau akan distop karena dirasa sudah cukup upaya untuk menambah elevasi air di Bendungan Sutami," katanya.
Pelaksanaan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menanggulangi defisit air di DAS Brantas tersebut merupakan kerja sama Perum Jasa Tirta (PJT) I dengan BPPT yang didukung oleh Pemprov Jatim, TNI AU serta TNI AD.
Lebih lanjut Heu Widodo mengatakan, dalam satu kali penerbangan, pihaknya akan menyemai sekitar 800 hingga 1000 kg bedak garam yang butirannya lebih besar dari awan, yakni 10 mikron. Pesawat yang bakal menerbangkan penyemaian itu adalah pesawat jenis cassa yang akan berada di udara selama 1 sampai 1,25 jam.
Untuk menentukan titik-titik (lokasi) hujan buatan tersebut, katanya, tergantung potensi awan. Dan, untuk mengetahui ketebalan dan kepadatan awas, BBPT dibantu oleh satu radar yang memiliki radius sekitar 50 kilometer.
Menyinggung anggaran yang dibutuhkan untuk membuat hujan buatan tersebut, Heru Widodo mengemukakan, sudah ada Peraturan Pemerintah (PP)-nya, yakni sebesar Rp113 juta untuk setiap kali terbang untuk menyemai bedak garam. Biaya tersebut sudah termasuk pesawat, material dan perlengkapan lainnya.
"Untuk tarif ini sudah ada aturannya dan kami juga menerapkan tarif sesuai dengan aturan. Kalau 36 kali terbang, ya tinggal mengalikan saja, tapi ini kan situasional dan tergantung kebutuhan," ujarnya.
Sementara Kepala Biro Manajemen Pengembangan Usaha dan Teknologi PJT I Alfan Riyanto mengatakan, pihaknya sudah menganggarkan dana sekitar Rp3 miliar untuk hujan buatan tersebut.
"Tapi, kami bersama BPPT masih akan melakukan evaluasi setelah 20 hari pertama pelaksanaan hujan buatan ini," katanya.(*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.