Jangan sampai APTIKOM besar di tingkat pusat, tetapi manfaatnya tidak terasa di wilayah
Surabaya (ANTARA) - Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) diminta memperluas akses kepemimpinan dan manfaat organisasi bagi anggota di berbagai daerah menjelang Musyawarah Nasional (Munas) APTIKOM VII.
“Jangan sampai APTIKOM besar di tingkat pusat, tetapi manfaatnya tidak terasa di wilayah,” ujar Wakil Ketua III APTIKOM Jawa Timur Bidang Humas dan Kelembagaan Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA, dalam keterangan, Jumat.
Menurut dia, pergantian kepemimpinan APTIKOM periode 2026–2030 perlu diikuti perubahan cara kerja organisasi agar kesempatan berorganisasi tidak hanya berputar pada kelompok yang memiliki jejaring kuat.
Ia mengatakan kampus dan anggota dengan kapasitas serta kontribusi beragam perlu mendapat ruang yang sama untuk terlibat, termasuk perguruan tinggi dan wilayah yang selama ini belum banyak memperoleh akses.
“Organisasi nasional memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yaitu mengangkat mereka yang belum kuat, membuka akses bagi mereka yang masih berada di pinggir, serta menghadirkan kesempatan kepada anggota yang sebelumnya belum pernah mendapatkannya. Itulah esensi pemerataan,” katanya.
Supangat menilai prinsip meritokrasi perlu diterapkan dalam regenerasi dengan memberikan kesempatan berdasarkan kemampuan dan kontribusi, tanpa mengabaikan anggota yang telah lama berkontribusi.
“APTIKOM membutuhkan keberanian untuk mengubah paradigma. Dari sentralisasi menuju kolaborasi. Dari kedekatan menuju meritokrasi. Dari kelompok menuju kebersamaan. Dari program seremonial menuju program yang memberikan dampak,” ujarnya.
Supangat menambahkan keberhasilan program perlu diukur melalui indikator yang menunjukkan pemerataan manfaat, seperti keterlibatan wilayah, keterwakilan daerah dalam kepengurusan, akses kegiatan internasional, jejaring industri, dan peningkatan kapasitas anggota.
“Kalau indikator terbuka, keberhasilan tidak lagi hanya menjadi klaim. Data yang akan berbicara,” katanya.
Ia menegaskan pergantian kepemimpinan perlu disertai perubahan sistem agar regenerasi tidak sekadar mengganti nama dalam kepengurusan.
"APTIKOM adalah milik seluruh anggotanya,” tutur Supangat.
Sementara itu, Ketua APTIKOM Jawa Timur Yoyon Arie Budi Suprio mengatakan Munas APTIKOM VII di Yogyakarta menjadi momentum memperkuat konsolidasi perguruan tinggi informatika dan komputer sekaligus menetapkan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal periode 2026–2030.
Ia berharap kepemimpinan baru memperkuat pengurus wilayah melalui pendampingan akreditasi, pengembangan kapasitas, kolaborasi riset, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta kerja sama dengan pemerintah daerah dan industri.
“Semoga kepemimpinan baru ini membawa APTIKOM makin solid, berdampak, hadir nyata, serta tumbuh bersama menggerakkan kemajuan pendidikan tinggi komputer di setiap provinsi di Indonesia,” ujar Yoyon.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.