Sidoarjo - PT Pakarti Riken Indonesia melakukan investasi sebesar Rp200 miliar untuk ekspansi pabrik dengan melakukan penambahan mesin baru "new molding line" di kompleks pabrik di kawasan Gedangan, Sidoarjo. President Director PT Pakarti Riken Indonesia, Kensei Matsuki, Senin, mengatakan, investasi itu diharapkan mampu menambah kapasitas produksi dari 3.000 ton menjadi 4.000-5.000 ton setiap bulannya. "Saat ini kami hanya mampu memenuhi pasar internasional sebesar 30 persen dari total kapasitas produksi kami dan sisanya sebesar 70 persen masih untuk memenuhi pasar dalam negeri," katanya. Ia mengemukakan, saat ini pihaknya masih terfokus untuk memenuhi permintaan pembuatan onderdil kendaraan bermotor, seperti sepeda motor dan juga mobil serta kendaraan berat seperti truk. "Untuk onderdil truk saat ini telah menguasai 48 persen hasil produksi dan sebesar 40 persen kami berkonsentrasi untuk memproduksi onderdil kendaraan roda dua," katanya. Sementara sisanya sebesar 12 persen, kata dia, dikonsentrasikan untuk pembuatan sambungan pipa yang terbuat dari bahan besi. "Produk utama kami di antaranya adalah, Brake Drum, Brake Disc, Cam Saft dan juga beberapa komponen lain seperti Cylinder Head serta Pipe Fitting," katanya. Ia mengakui, saat ini pemenuhan bahan produksi untuk industri otomotif lebih banyak didatangkan dari luar negeri, seperti Jepang dan China. "Oleh karena itu, dengan adanya penambahan mesin baru tersebut akan mampu mengurangi biaya impor bahan produksi untuk kendaraan yang selama ini masih diimpor dari luar negeri," tambahnya. Pada kesempatan yang sama, salah seorang pemegang saham PT Pakarti Riken Indonesia Sofyan Wanandi mengatakan, ekspansi pabrik ini merupakan salah satu upaya untuk menyerap tenaga kerja yang ada di Kabupaten Sidoarjo. "Oleh karena itu, kami sebagai investor meminta kepada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk senantiasa menjaga dan memenuhi kebutuhan listrik dan juga gas yang selama ini masih sering dikeluhkan oleh para pengusaha," katanya. (*)


Editor : Didik Kusbiantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026