Siapa sangka di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang merupakan perguruan teknik itu juga ada musik jazz.
Bukan hanya itu, di kampus para insinyur itu telah lahir "ITS Jazz" yang merupakan komunitas jazz pertama yang berbasis kampus.
Komunitas yang dibidani ratusan mahasiswa pecinta musik jazz itu merekonstruksi musik yang selama ini identik dengan kelas atas.
Sebenarnya, komunitas itu sudah terbentuk sejak tahun 2011, namun karena kesibukan yang menyita anggotanya, maka komunitas itu pun tidak terurus.
Kendati begitu, keinginan kuat dari para anggota akhirnya menghidupkan kembali komunitas itu dalam peluncuran komunitas itu secara resmi pada 16 Juni 2012.
Saat ini, anggota yang tergabung dalam komunitas ini mencapai 300 orang yang berasal dari berbagai jurusan di ITS.
"Untuk sementara ini, anggota komunitas ITS Jazz ini masih sebatas mahasiswa di lingkungan ITS," ucap inisiator komunitas ITS Jazz, Pramudito Aji Wicaksono.
Ke depan, keanggotaan komunitas akan dikembangkan lagi, sehingga komunitas musik jazz itu akan menepis anggapan bahwa jazz hanya dinikmati kalangan tertentu.
"Kami ingin memasyarakatkan musik jazz di kalangan anak muda juga, khususnya mahasiswa ITS," tutur cowok berkacamata itu.
Intinya, tukas mahasiswa Teknik Kimia ITS semester 8 itu, misi utama komunitas ITS Jazz adalah mengenalkan, mengapresiasi, dan mengedukasi anak muda tentang musik jazz dengan baik.
"Misi itu akan memberi pilihan warna pada anak muda yang berminat terhadap dunia musik," kilah pria yang kerap disapa Dito itu.
Dito pun berani mendaku (klaim) bahwa komunitas ITS Jazz itu merupakan komunitas musik jazz yang besar dan pertama ada di kalangan kampus di Indonesia.
"Biasanya, komunitas seperti ini terbentuk di luar kampus, jadi baru kami yang pertama berbasis kampus," papar mahasiswa kelahiran Pekalongan, 2 Mei 1990.
Otak kanan
Untuk lebih menguatkan komunitas tersebut, juga telah terbentuk sebuah grup band di dalamnya yang terdiri atas enam personel yang juga anggota komunitas ITS Jazz.
"Ke depan, kami ingin menggelar sejumlah kegiatan tahunan (annual) yang cukup besar, agar komunitas ini terus bertahan dan makin berkembang," urai Dito.
Pria yang didapuk sebagai pembetot bas sesuai keahliannya sejak SD itu menyebut serangkaian kegiatan, di antaranya klinik musik, performing, dan jamming dengan band di luar kampus.
"Tidak menutup kemungkinan juga untuk jamming dengan grup band beraliran musik jazz yang cukup terkenal," ujarnya.
Selain itu, diskusi bulanan untuk "bagi-bagi" ilmu dan berbagai hal seputar musik jazz di Indonesia dan dunia, sehingga wawasan tentang jazz berkembang.
"Ya, dengan makin banyaknya orang paham tentang musik jazz, maka kami harap musik jazz tidak asing lagi bagi masyarakat," pungkasnya.
Kiprah komunitas musik jazz berlabel "ITS Jazz" itu mendapat dukungan Kepala Badan Pembinaan Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni ITS Surabata, Dr Ir Bambang Sampurno MT.
"Seni itu justru penting bagi orang-orang teknik, karena teknik itu tidak akan melahirkan orang kreatif bila hanya berhenti pada konsep," ungkapnya.
Baginya, seni yang dipadukan teknik itulah yang akan melahirkan industri kreatif, karena konsep yang diberi sentuhan seni akan menjadi kreatifitas.
Oleh karena itu, tegasnya, ITS akan selalu mendorong kegiatan berkesenian, seperti paduan suara, teater, karawitan, dan sejenisnya.
Bahkan, Paduan Suara Mahasiswa (PSM) ITS) Surabaya terpilih mewakili Indonesia di Kompetisi Rimini International Choral Competition di Rimini, Italia, 6-9 Oktober 2011.
Tidak hanya itu, ITS juga berencana mendirikan sebuah fakultas yang berkaitan dengan seni dan industri kreatif.
"Seni itu mengeksplorasi otak kanan, sedangkan teknik itu hanya otak kiri. Kalau otak kiri dipadukan dengan otak kanan, tentu akan luar biasa, karena ITS Jazz juga kami dukung," ujarnya. (*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.