Pacitan - Sejumlah nelayan yang beraktivitas di sekitar Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, mengeluhkan menipisnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di daerah tersebut, selama beberapa pekan terakhir.
"Pasokan ke SPBN (stasiun pengisian bahan bakar nasional) Pelabuhan Tamperan masih jauh dari mencukupi kebutuhan nelayan di sini," ujar salah seorang nelayan setempat, Pujianto, Selasa.
Keterbatasan stok solar di SPBN memang masih bisa teratasi dengan melakukan pembelian di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang ada di luar pelabuhan atau untuk kendaraan umum di pusat kota Pacitan.
Namun, kata Pujianto maupun sejumlah nelayan lain, prosedurnya dinilai lebih rumit dan mereka harus mengeluarkan biaya tambahan sehingga menyebabkan ongkos produksi meningkat.
"Selain harus mengurus surat rekomendasi dari syahbandar, repotnya kami harus mengeluarkan biaya tambahan, untuk transportasi misalnya" keluhnya.
Kondisi tersebut berbeda ketika stok BBM di SPBN Tamperan mencukupi. Sebab, nelayan tidak perlu jauh-jauh mencari bahan bakar bagi kapalnya. Lokasi SPBN yang terletak tepat disamping pelabuhan dinilai sangat memudahkan nelayan dalam berbelanja solar hingga ratusan liter, baik menggunakan jerigen maupun dengan memarkir langsung kapal mereka di pinggir dermaga.
Tingginya permintaan solar, terlihat dari menumpuknya puluhan jerigen di sekitar areal SPBN. Jerigen-jerigen ini informasinya telah diantrrkan oleh para pemilik kapal sejak dua hari lalu dan sampai saat ini belum terisi.
Sebelum musim ikan datang, tiap kali pengiriman solar dari depo Pertamina sebanyak 8.000 liter biasanya mampu bertahan hingga empat hari. Namun sekarang, selang sehari saja solar langsung habis.
Para nelayan berharap agar permasalahan defisit solar segera teratasi agar aktivitas melaut mereka tak terganggu.
Dari catatan pihak pelabuhan, dalam kurun waktu dua bulan sejak defisit solar terjadi, sudah ada 58 surat rekomendasi mereka keluarkan.
"Rekomendasinya kami yang mengeluarkan, karena memang hanya kami yang tahu mana nelayan asli dan yang bukan," ujar Kasi Pelayanan Teknis PPP Tamperan, Choirul Huda.
Choirul mengakui, melonjaknya permintaan rekomendasi itu menyulut kekhawatiran dari pihak pelabuhan. Mereka terutama was-was jika kebijakan itu akan mendatangkan protes dari warga umum, karena jatah BBM mereka di SPBU akan berkurang.
Menurutnya, defisit bahan bakar minyak jenis solar biasa terjadi setiap kali menjelang musim ikan.
Menurutnya, hal itu bisa terjadi lantaran jumlah kapal-kapal yang sandar di PPP Tamperan bertambah hingga 25 persen, terutama dari kelompok nelayan andon yang biasanya membawa kapal-kapal besar seperti jenis sekoci dan pursin.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pacitan Sujohan membenarkan jika defisit BBM kerap kali muncul saat musim tangkap ikan datang, yakni mulai bulan April sampai Desember.
Untuk mengatasi permasalahan ini, pihaknya telah melayangkan permohonan penambahan kuota kepada PT Pertamina. Hanya saja, sampai sekarang permohonan itu belum terealisasi. "Sudah kami layangkan permohonan melalui Pak Bupati, tapi belum juga terealisasi," jelasnya. (*)
Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.