Sidoarjo - Tanggul Penahan Lumpur Lapindo semakin kritis menyusul tidak adanya penanganan pengaliran lumpur oleh Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) serta adanya hujan yang turun di kawasan tersebut.
Humas BPLS Akhmad Kusairi, Senin, mengatakan, saat ini BPLS hanya mengandalkan kekuatan tanggul di kolam penampungan saja mengingat tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan oleh BPLS akibat blokade warga di dalam peta terdampak terhadap kerja BPLS.
"Kami berharap, masalah pelunasan terhadap korban lumpur yang ada di dalam peta terdampak bisa segera diselesaikan dan BPLS bisa segera melakukan tugasnya untuk mengalirkan luapan lumpur dari kolam penampungan ke Kali Porong," katanya.
Ia mengemukakan, saat ini elevasi antara luberan lumpur di dalam kolam penampungan dengan bibir tanggul di sisi terluar sekitar 70 centimeter.
"Padahal, jarak aman antara bibir tanggul dengan luberan lumpur yang ada di dalam kolam penampungan tersebut minimal satu meter atau bahkan bisa lebih dari satu meter," katanya.
Ia mengemukakan, kondisi tersebut diperparah lagi dengan adanya hujan yang turun di kawasan kolam penampungan lumpur sejak malam hingga dini hari tadi.
"Guyuran air hujan yang terjadi di lokasi kolam penampungan lumpur sangat berpengaruh terhadap daya tampung lumpur yang ada di dalam kolam penampungan," katanya.
Ia mengatakan, dalam kondisi normal, kata Kusairi, saat menyentuh jarak 200 sentimeter, tim BPLS melakukan peninggian untuk memperkuat struktur tanggul supaya tidak terjadi jebolnya tanggul dan juga beberapa kemungkinan lain yang bisa terjadi.
"Kami juga khawatir air yang ada di dalam kolam penampungan tersebut akan merembes masuk ke dalam pori - pori tanggul dan bisa merusak struktur yang ada di dalam tanggul dan mengakibatkan kekuatan tanggul tidak akan maksimal," katanya.
Kemungkinan lain yang bisa terjadi yaitu adanya luberan lumpur di atas kolam penampungan mengingat besar kemungkinan bisa terjadi longsoran dari gunung lumpur yang terjadi di dalam kolam penampungan.
"Kalau gunung lumpur tersebut benar - benar longsor, maka dalam hitungan jam akan terjadi luberan lumpur atau yang disebut dengan 'over topping' seperti yang telah terjadi beberapa waktu lalu di titik 21," katanya.(*)
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.