Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa sore kembali melanjutkan pelemahan menuju level Rp9.200, didorong oleh rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Nilai tukar rupiah di pasar spot mata uang antarbank di Jakarta melemah 60 poin ke posisi Rp9.190 dibanding sebelumnya di Rp9.130 per dolar AS.
Analis pasar uang Treasury Telkom Sigma, Rahadyo Anggoro di Jakarta, mengatakan, pelaku pasar masih khawatir dengan naiknya BBM akan memicu inflasi kedepannya.
"Pengaruh dari dalam negeri masih dari rencana kenaikkan BBM, secara fundamental kenaikkan itu akan menaikkan inflasi," kata dia.
Ia memproyeksikan, inflasi pada tahun ini diperkirakan meningkat 2,4 persen lebih besar dari yang ditargetkan oleh Pemerintah sebesar 6,5 persen.
Kenaikkan BBM, kata dia, juga akan diikuti oleh naiknya tarif dasar listrik (TDL), kondisi itu menambah sentimen negatif bagi pelaku pasar uang.
"Dengan naiknya BBM dan TDL maka perubahan anggaran pemerintah akan terjadi sehingga akan menambah utang baru bagi negara sebesar Rp40-50 triliun," katanya.
Analis Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menambahkan, harga komoditas dunia seperti emas, perak, dan minyak mentah anjlok cukup dalam dipicu penguatan dolar AS akibat membaiknya data ekonomi di AS dan tidak adanya indikasi akan dikeluarkannya pelonggaran kuantitatif ketiga dalam testimoni Gubernur Federal Reserve AS di hadapan Kongres AS.
Ia mengatakan, masalah Eropa juga masih menyisakan persoalan "debt swap" Yunani pada pekan ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan dana dari Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF).
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Selasa (6/3) tercatat mata uang rupiah bergerak melemah ke posisi Rp9.163 dibanding sebelumnya Rp9.130 per dolar AS.(*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.