Surabaya - Kolektor muda seni rupa yang juga Direktur dan pendiri Myseum & CS, Rully Anwar, berencana menerbitkan buku "Nararupa" yang mendokumentasikan para perupa Surabaya berikut karya-karya terbaiknya.
Ditemui wartawan di Surabaya, Kamis, Rully Anwar mengemukakan, selain menampilkan koleksi seni rupa, buku yang rencananya diterbitkan pertengahan 2012 itu, diharapkan juga menjadi rekam jejak berbagai geliat seni rupa Surabaya.
"Dari ratusan koleksi yang sudah saya himpun, sebagian akan muncul dalam buku Nararupa, seperti lukisan tua karya Rudi Isbandi yang dibuat tahun 1969 berjudul Latar Hitam," katanya.
Reporter salah satu radio swasta di Surabaya itu, menambahkan riset dan pengumpulan koleksi karya perupa "Kota Pahlawan" sudah dilakukan sejak 2003, baik berupa lukisan, sketsa, patung, dan seni instalasi.
"Total ada sekitar 450 karya seni yang sudah terkumpul sejak 2003 dan sebagian di antaranya akan didokumentasi dalam buku yang sedang saya susun," tambahnya.
Alumnus Fisip Unair itu mengatakan, awal mula mengoleksi seni dimulai dari karya sketsa Jansen Jasien dalam seri "Mencari Kayu Bakar", yang sempat ditampilkan pada pameran tunggal "Soerabaia di Oejoeng Doepa" pada 2009.
Dari mengoleksi karya pelukis Jansen tersebut, hingga saat ini Rully Anwar sudah menghimpun karya dari sekitar 40 seniman Surabaya dan kota lain, seperti almarhum Lim Keng dan Thalib Prasojo, Agus Koecink, Jenny Lee, Dukan Wahyudi, Jopram, Ilham J Baday, Ipe Makruf, Taring Padi, dan Ugo Untoro.
"Cerita di balik pengoleksian dan bagaimana visual yang menarik dari karya para seniman itu, akan terangkum dalam buku Nararupa," ujarnya.
Menurut Rully, geliat seni rupa di Surabaya sudah berlangsung sejak lama dan semakin berkembang, tetapi belum terdokumentasi dengan baik dan masih minim.
"Sudah saatnya karya perupa Surabaya dikenal dan mampu menjadi momentum baru dalam membangkitkan seni rupa di Tanah Air," katanya. (*)
Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.