Isiolo (ANTARA/Reuters) - Dua bom meledak di dua kota Kenya dekat perbatasan Somalia, Minggu, dalam serangan terkoordinasi yang menewaskan seorang polisi dan dituduhkan pada gerilyawan Somalia Al-Shabaab, kata penduduk dan seorang kepala polisi senior.
Serangan-serangan itu tampaknya ditujukan pada pasukan keamanan Kenya, yang kini memerangi gerilyawan tersebut di wilayah Somalia selatan.
Leo Nyongesa, kepala kepolisian di provinsi timurlaut Kenya, menuduh Al-Shabaab sebagai pelaku serangan Minggu dan mengatakan, satu polisi tewas dalam salah satu ledakan itu.
Sejumlah saksi di kota Mandera mengatakan, sebuah bom yang dikendalikan dari jarak jauh meledak tak lama setelah sekelompok polisi berteduh di rumpun pepohonan dekat daerah perbatasan yang keropos itu.
Menurut penduduk, polisi sering beristirahat di lokasi tersebut.
"Saya melihat tiga aparat terluka dengan pakaian bernoda darah sedang diangkut ke sebuah kendaraan polisi. Di dalam kendaraan itu ada mayat seorang polisi lain," kata warga Ibrahim Isaack kepada Reuters melalui telefon.
Pasukan keamanan melepaskan tembakan ke udara untuk memaksa massa menjauh dari lokasi ledakan, kata Isaack.
Beberapa menit sebelumnya, sebuah bom yang dikubur di dalam tanah meledak dekat sebuah kamp militer di kota Wajir ketika konvoi pasukan lewat.
Menurut pengusaha setempat Mohamed Omar kepada Reuters, sedikitnya sembilan prajurit cedera dalam ledakan itu.
Pasukan Kenya pada 16 Oktober meluncurkan penyerbuan ke Somalia untuk memburu Al-Shabaab yang dituduh mendalangi penculikan warga asing di Kenya dan mengklaim telah membunuh puluhan gerilyawan dari kelompok tersebut.
Pada 17 Oktober, Al-Shabaab membantah tuduhan Kenya bahwa mereka mendalangi sejumlah penculikan warga asing di negara tersebut akhir-akhir ini.
Al-Shabaab menuduh pemerintah Kenya menggunakan isu penculikan sebagai dalih untuk melakukan penyerbuan ke Somalia.
Dalam waktu kurang dari sebulan, seorang wanita Inggris dan seorang wanita Prancis diculik dari kawasan wisata pantai Kenya dalam dua insiden terpisah, yang merupakan pukulan besar bagi industri pariwisata di Kenya.
Pada 13 Oktober, dua wanita pekerja bantuan asal Spanyol diculik dari kamp pengungsi Dadaab, Kenya, kamp terbesar di dunia yang menjadi tempat bagi sekitar 450.000 pengungsi yang sebagian besar orang Somalia yang menyelamatkan diri dari kekeringan, kelaparan dan perang.
Penculikan-penculikan itu juga diyakini dilakukan oleh Al-Shabaab Somalia. Belum ada tuntutan yang diumumkan oleh penculik bagi pembasan para sandera itu.
Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama empat tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan PBB yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu.
Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli 2010.
Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas.
Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibukota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 79 orang.
Pemboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap kedutaan besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaida.
Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden.
Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya berusaha menggulingkan pemerintah Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan pada Mei tahun lalu.
Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai.
Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah.
Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut. (*)
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.