Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Jumat pagi turun tipis, namun posisinya masih di bawah angka Rp9.000 per dolar, setelah hari sebelumnya menguat. Kurs rupiah di pasar spot antarbank Jakarta turun lima poin menjadi Rp8.990 per dolar dibanding hari sebelumnya Rp8.995. Analis PT First Asia Capital, Ifan Kurniawan di Jakarta, Jumat mengatakan, mata uang rupiah bergerak turun karena belum adanya ekspektasi positif dari penanganan krisis utang di Eropa sehingga mendorong pelaku pasar memegang dolar AS. "Ketidakpastian kondisi ekonomi global masih membayangi pasar," ujarnya. Ia menambahkan, pelaku pasar saat ini tengah menunggu hasil KTT Eropa dalam menangani krisis di kawasan tersebut. "Pasar tengah mengantisipasi langkah pengamanan zona Euro setelah ada kunjungan dari Menkeu AS, Geithner, yang masih mendesak petinggi Uni Eropa untuk segera menuntaskan masalah krisis," katanya. Diharapkan KTT tersebut dapat memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan global. Sementara itu, Direktur Utama PT FinanCorpindo Nusa, Edwin Sinaga mengatakan, pelaku pasar kecewa ketika Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) diminta untuk meningkatkan pembelian obligasi kurang memberikan tanggapan positif. Gubernur ECB bahkan meminta pembelian obligasi itu seharusnya dilakukan oleh perbankan Eropa yang saat ini mengalami krisis likuiditas. Meski demikian, lanjut dia, peluang rupiah untuk kembali menguat masih tinggi, apalagi mata uang utama Asia berpotensi untuk kembali menguat. Selain itu pasar juga mengharapkan KTT Uni Eropa akan dapat memberikan hasil positif sehingga krisis itu tidak berlanjut, katanya. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026