Pacitan - Puluhan nelayan di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, beramai-ramai melakukan perburuan gurita laut, karena dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi dibanding ikan tuna maupun pelagis yang selama ini menjadi sasaran tangkap mereka.
"Selain harga jualnya lebih mahal, lokasi penangkapannya juga tidak terlalu jauh atau sampai ke tengah laut seperti halnya memburu ikan tuna dan pelagis," ujar salah seorang nelayan di Pantai Watukarung, Kecamatan Pringkuku bernama Suparno, Kamis.
Ia mengungkapkan, peralihan sasaran perburuan biota laut tersebut telah di lakukan nelayan setempat sejak sebulan terakhir. Hal serupa juga terjadi di sejumlah pelabuhan tradisional lain, termasuk di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan, Kecamatan Pacitan.
Disebutkannya, para nelayan memilih tidak menangkap ikan tuna atau tongkol untuk sementara lebih didasari pada pertimbangan pasar. Sebab, harga gurita laut di pasaran saat ini cukup tinggi, baik di tingkatan pengepul maupun konsumen langsung.
"Satu kilogram gurita dihargai antara Rp45 ribu hingga Rp46 ribu. Harga ini jauh lebih tinggi dibanding harga ikan tongkol dengan bobot sama yang harganya hanya sekitar Rp10 ribu," terangnya.
Dikonfirmasi terpisah, salah seorang pedagang ikan di Pantai Watukarung bernama Elkanah mengatakan, setiap hari dirinya mampu menampung sekitar satu ton gurita.
Salah satu jenis ikan berdaging lunak tersebut diakuinya memang banyak diminati para pengepul ikan karena memiliki pasar cukup baik di luar negeri.
Beberapa negara menjadi tujuan ekspor, di antaranya adalah negara-negara di Asia, seperti Jepang dan Hong Kong, serta Amerika Serikat. "Ikan-ikan ini memang ditujukan untuk ekspor," ungkapnya.
Hal serupa juga terjadi pada nelayan di kawasan Pantai Wawaran, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung. Teguh, salah seorang nelayan setempat menjelaskan, untuk menangkap hewan moluska ini cukup mudah, yakni bermodal pancing dan kepiting tiruan sebagai umpan.
"Gurita letaknya di tepi-tepi karang, sehingga jangkauan dari pantai lebih dekat dan mudah ditangkap," jelasnya.
Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.