Malang - Presiden Indonesian Islamic Bussiness Forum atau IIBF Ir. Heppy Trenggono, M.Kom, meminta agar para pengusaha besar jangan sampai menjadi mesin pembunuh bagi pengusaha kecil. "Negara harus mengatur strategi agar pengusaha besar tidak menjadi mesin pembunuh bagi pengusaha kecil. Dan masyarakat sendiri juga harus digerakkan untuk menggunakan produk-produk dalam negeri," katanya ketika memberikan kuliah tamu di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dome, Sabtu. Ia mengaku, Indonesia adalah negara paling konsumtif kedua di dunia, itu berarti Indonesia merupakan pasar empuk bagi semua produk dari seluruh dunia. Jika tidak dikelola, maka potensi itu hanya menjadi makanan orang asing, padahal produksi masih sangat minim. Satu-satunya upaya agar produk-produk anak negeri (Indonesia) tidak tergilas Heppy mengajak agar masyarakat memulai sebuah gerakan "Beli Indonesia", yakni membeli produk Indonesia, membela bangsa Indonesia dan menghidupkan semangat persaudaraan. Heppy juga minta agar mahasiswa tidak malu menjadi petani. Di negara-negara maju petani bisa sangat makmur karena disubsidi pemerintah, sebab untuk urusan kebutuhan hidup, negara tidak berani ambil risiko seandainya petani tidak mau menanam akibat jatuhnya harga. "Ini merupakan kebijakan yang 'enterpreneuship' karena menganggap petani adalah orang yang wajib dibela dan harus kaya sehingga akan banyak petani. Kehebatan sebuah negara, bisa dilihat darikemakmuran petaninya," tegasnya. Berbeda dengan di Indonesia, nasib petani justru sangat miris di tengah-tengah kekayaan alam yang melimpah. "Lebih miris lagi, ini bukan karena petani yang salah, melainkan kebijakan impor hasil pertanian yang tak bisa dibendung. Akibatnya, petani harus bersaing dengan produk-produk negara lain yang terus membanjiri pasar di Tanah Air," ujarnya. Hanya saja, lanjutnya, dirinya tidak bisa menyalahkan sistem pasar bebas yang sudah disepakati. Namun, yang diperlukan adalah nalar berfikir enterpreneurship menjadi sebuah kebijakan. Barang asing boleh masuk, tetapi harus kita atur. Misalnya masuknya barang melalui pelabuhan di Papua, sehingga warga di sana ikut merasakan pemerataan, sedangkan harga distribusi ke Jawa dan sekitarnya tetap tinggi, sehingga bisa bersaing dengan petani lokal.(*)


Editor : FAROCHA

COPYRIGHT © ANTARA 2026