Surabaya - Defisit gas di Indonesia menghambat kelancaran produksi lima pabrik keramik di Tanah Air pada tahun ini.
"Untuk Jawa Timur (Jatim), satu pabrik berada di Gresik yakni Sunpower International Ceramics dengan penanam modal asal Taiwan dan satu lagi di Margomulyo, Surabaya dengan nama Matahari Ceramics dengan investor asal Indonesia," kata Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia, Achmad Widjaya, dihubungi dari Surabaya, Kamis.
Selain itu, jelas dia, tiga pabrik keramik lainnya berada di luar Jatim antara lain masing - masing di Cirebon, Tangerang, dan Karawang.
"Padahal, nilai investasi yang dikeluarkan setiap pabrik mencapai 15 juta dolar AS," ujarnya.
Di sisi lain, kata dia, sampai saat ini total pabrik keramik yang masih beroperasi ada sebanyak 38 pabrik. Dari jumlah tersebut, 10 pabrik di antaranya berada di Jatim.
"Puluhan pabrik keramik tersebut mampu membukukan kapasitas produksi terpasang secara nasional sebesar 250 juta meter persegi per tahun," katanya.
Dengan minimnya pasokan gas di Jatim, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Budi Setyawan khawatir pertumbuhan industri di Jatim akan mengalami stagnasi.
"Kami sudah meminta ke pusat untuk diprioritaskan mengingat Jatim ditetapkan menjadi kluster migas dan kondensat," katanya.
Jika kondisi ini tidak dicarikan solusi, ia memperkirakan, ada banyak penanam modal yang menunda investasinya karena tidak ada kepastian pasokan gas.
Menyikapi kondisi tersebut, General Manager PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk, Cahyo Triyogo, membenarkan, kini ketersediaan gas di Jatim defisit.
"Saya tidak tahu secara detail angka pastinya karena yang memiliki data berapa besaran defisitnya Kementerian Perindustrian," katanya.
Situasi itu, lanjut dia, secara keseluruhan permintaan gas terutama untuk kalangan industri di Jatim selalu menunjukkan porsi lebih besar dibandingkan ketersediaan.
"Di samping itu, kemampuan produksi di sejumlah sumur gas di Jatim selalu mengalami penurunan setiap tahun. Bahkan, energi gas itu sendiri memang tidak bisa diperbarui," katanya.
Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.