Malang - Direktur "Voice of America" (VoA) Indonesia Frans Padak Demon "menantang" mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk berkarier di lembaga yang dipimpinnya. "Siapapun, termasuk mahasiswa UMM mempunyai kesempatan yang sangat terbuka untuk mengembangkan karier di VoA, dengan catatan memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang sangat baik, dan bahasa Inggris yang baik pula," kata Frans Padak Demon di sela-sela kuliah tamu di Malang, Senin. Menurut dia, Bahasa Indonesia harus sangat baik karena VoA berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia, sedangkan Bahasa Inggris penting untuk komunikasi dengan nara sumber. Untuk menjadi jurnalis VoA Indonesia, katanya, pihaknya pantang untuk mempertimbangkannya dari sisi ras, agama, bahkan penampilan fisik, sehingga jika ada aplikasi yang menyertakan foto akan dibuang terlebih dahulu untuk menghindari subjektivitas. Secara tegas Frans mengatakan, bagi VoA bukan wajah, bukan ras atau agama, tetapi pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dimiliki calon jurnalis. Frans meyakini jika di UMM banyak sekali kesempatan untuk mengikuti berbagai seminar, praktik kerja, bahkan bekerja sebagai bekal pengalaman. "Jika anda ingin bekerja di VoA, siapkanlah sejak sekarang, jangan setelah lulus kuliah baru cari-cari kursus," ujarnya. VoA Indonesia, kata Frans, mengalami peningkatan pendengar yang sangat signifikan. Saat ini VoA Indonesia diakses hingga 37,8 persen pendengar di Indonesia. Peningkatan jumlah pendengar yang signifikan ini karena VoA Indonesia berkoneksi dengan 230 radio dan 38 stasiun televisi. VoA memberikan konten kepada radio dan televisi di Indonesia secara gratis. Namun, berita-berita yang diberikan kepada "broadcast" Indonesia harus bermutu sesuai dengan kebutuhan konsumen tanpa mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik. VoA, tegasnya, bukan corong dari kebijakan pemerintah Amerika walau dibiayai oleh Kongres. Sebaliknya, VoA juga menyuarakan pihak-pihak yang berseberangan sehingga masyarakat bisa memilih sendiri pendapatnya. "Tugas kita menyampaikan informasi dari berbagai pihak dan masyarakatlah yang menilai," ujarnya.


Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026