Nablus (ANTARA/AFP) - Seorang pria Palestina tewas ditembak pasukan Israel, Jumat, dalam bentrokan yang meletus setelah pemukim Yahudi menyerang sebuah desa dekat Nablus, kata beberapa sumber rumah sakit Palestina kepada AFP. Issam Badran (37) tewas setelah lehernya terkena peluru amunisi, kata petugas-petugas medis di rumah sakit Rafidia di Nablus, Tepi Barat bagian utara. Peristiwa itu terjadi di desa Qusra, sekitar 15 kilometer sebelah tenggara Nablus, yang menjadi lokasi serangkaian bentrokan antara penduduk lokal dan pemukim Yahudi. Petugas medis mengatakan, tiga orang lain Palestina cedera ringan setelah terkena tembakan peluru karet, dalam bentrokan yang meletus setelah sekelompok pemukim menyerbu desa itu dan mulai menghancurkan jendela-jendela rumah dan melemparkan batu, kata beberapa saksi setempat kepada AFP. Menurut mereka, lebih dari 50 pemukim dari lokasi terdepan permukiman Esh Kodesh menghancurkan jendela sejumlah rumah di pinggiran desa tersebut dengan batu dan pentungan, dan penduduk desa membalas dengan melemparkan batu. Pasukan Israel tiba di lokasi kejadian dan menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk berusaha memisahkan kedua pihak, namun bentrokan antara penduduk lokal dan militer berlanjut setelah pemukim pergi, kata beberapa saksi Palestina. Bentrokan itu meletus ketika Presiden Palestina Mahmud Abbas menyerahkan permohonan bersejarah kepada Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon untuk meminta badan dunia itu mengakui negara Palestina sebagai anggota penuh. Abbas mengupayakan pengakuan atas negara Palestina sesuai dengan batas-batas yang ada sebelum Perang Enam Hari 1967 yang mencakup Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Israel mengatakan, batas-batas itu tidak berlaku lagi dan perbatasan negara Palestina mendatang harus ditetapkan melalui negosiasi bilateral. Washington mengancam memveto upaya keanggotaan Palestina itu di Dewan Keamanan PBB dengan mengatakan, hal itu akan merusak prospek perundingan perdamaian dan negara Palestina hanya bisa dibentuk melalui perundingan dengan Israel.


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026