Jember - Melakukan kesalahan hingga menebusnya dengan menjalani hidup di balik terali besi bukan berarti akhir dari segalanya, Mereka masih memiliki kesempatan untuk berkarya.
Lima narapidana yang terdiri atas tiga narapidana wanita dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Kelas II-A Malang dan dua orang narapidana laki-laki dari Lapas Kelas II-A Jember memiliki kesempatan emas untuk berpartisipasi dalam "Jember Fashion Carnival" (JFC) yang menjadi agenda tahunan di Kabupaten Jember.
Mereka adalah Tatik Muchayaroh (27), Juntari (32), dan Maisaroh (20) menjadi peserta JFC Defile Borneo, sedangkan Mistur dan Ari Herman Yudianto menjadi peserta JFC Defile Punk.
Jember Fashion Carnival X dengan tema "Eyes on Triumph" menampilkan sebanyak 600 peserta yang berlenggak-lenggok di "catwalk" sepanjang 3,6 kilometer yang digelar di Kabupaten Jember, Minggu.
Karnaval mode Jember yang spektakuler tersebut menampilkan sejumlah defile dalam JFC X yakni defile Royal Kingdom, Punk, India, Athena, Tsunami, Bali, Borneo, Roots, Animal Plant, dan Butterfly.
"Saya tidak pernah membayangkan bisa keluar dari penjara untuk sementara waktu dan diberi kepercayaan menjadi peserta JFC," tutur seorang narapidana Maisaroh di sela-sela penjurian busana peserta JFC di aula kantor JFC Kabupaten Jember, Selasa (19/7).
Dengan rasa bangga dan senang, narapidana asal Malang tersebut mulai menceritakan perjalanannya menjadi peserta JFC defile Borneo dalam peragaan busana spektakuler di Jember yang sudah "go" internasional itu.
"Awalnya saya malu menjadi peserta karena tidak tahu apa-apa tentang 'fashion' dan status sosial yang beda dengan peserta lainnya membuat saya lebih banyak diam pada saat latihan dan pembekalan di kantor JFC," ucap narapidana kasus pencurian itu.
Pandangan masyarakat yang masih miring dan negatif tentang seorang narapidana membuat lima narapidana dengan berbagai kasus tindak kriminalitas itu rendah diri (minder) menjadi peserta JFC asuhan Dynand Fariz.
"Dengan pembinaan dan motivasi dari pelatih JFC, perlahan-lahan kami mulai percaya diri untuk berinteraksi dengan peserta lainnya, bahkan sebagian peserta sudah bisa menerima kami apa adanya," tuturnya menjelaskan.
Dengan bimbingan dari pelatih JFC, kelima narapidana tersebut merancang ide dan menuangkan konsepnya untuk membuat kostum sesuai dengan tema defile yang ditentukan.
Sejumlah narapidana itu berusaha membuat kostum yang unik dan spektakuler dari barang bekas dan bahan-bahan yang bisa digunakan untuk mempercantik kostum defile Borneo.
"Pembuatan kostum dilakukan secara bertahap karena kami tidak leluasa keluar masuk-penjara untuk berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan dalam busana defile Borneo. Pembuatan kostum dilakukan sekitar tiga bulan," ucap gadis asal Malang itu.
Dengan bantuan petugas Lapas Jember, kelima narapidana itu memesan sejumlah barang-barang bekas dan pernak-pernik yang didapatkan di luar penjara.
"Kadang-kadang petugas yang membelikan sejumlah bahan, namun sesekali saya juga ikut berbelanja bahan untuk membuat kostum yang unik," ucapnya sambil tersenyum ramah.
Kesempatan menjadi peserta JFC tidak disia-siakan oleh Maisaroh untuk menambah pengetahuan tentang "fashion" yang diharapkan bisa menjadi inspirasi, setelah dia keluar dari hotel prodeo tersebut.
"Saya ingin membuktikan kepada semua pihak bahwa narapidana mampu berkarya dan berkreativitas dalam even yang diprakarsai oleh Dynand Fariz itu," paparnya.
Gadis tersebut juga tidak canggung-canggung untuk berlenggak-lenggok dan bergaya pada saat latihan, penjurian, dan penampilan perdana mereka di JFC X.
"Kami menunjukkan penampilan yang terbaik dalam Jember Fashion Carnival yang ditonton ribuan penonton dari wisatawan domestik dan asing yang memenuhi sepanjang jalan protokol di Jember," katanya menjelaskan.
Perasaan bangga dan senang juga dirasakan oleh Tatik Muchayaroh, narapidana kasus narkoba yang didaulat menjadi peserta JFC defile Borneo di ajang JFC X.
"Ini suatu mukjzat bagi saya bisa menghirup udara bebas dan berkarya dalam peragaan busana unik dan spektakuler di Jember, meski ruang kami berkreasi terbatas di dalam penjara," tuturnya lirih.
Berbekal latihan dan pembinaan selama beberapa bulan di kantor JFC, Tatik mencoba menuangkan ide dan konsep dalam merancang busana defile Borneo yang penuh dengan warna-warni hijau, merah, dan kuning.
"Kami melihat referensi busana Borneo yang pernah ditampilkan di JFC sebelumnya, sehingga muncul ide untuk membuat yang lebih atraktif dengan sejumlah barang bekas dan bahan baru yang dibeli di luar Lapas," paparnya.
Ia menuturkan petugas Lapas terus memberikan motivasi kepada narapidana dalam berkreativitas merancang kostum JFC yang unik, bahkan dukungan tersebut membuatnya bangkit dalam keterpurukan di dalam penjara.
"Keasyikan merancang kostum JFC di dalam Lapas Kelas II-A Jember terasa menyenangkan, bahkan kami tidak merasakan hidup di dalam penjara," kenangnya.
Keikutsertaan narapidana dalam JFC, lanjut dia, menjadi motivasi tersendiri untuk meninggalkan kenangan masa lalu yang cukup pahit dan melanjutkan hidup lebih baik lagi dengan kegiatan yang positif.
"Narapidana yang diberikan kepercayaan ikut JFC tahun ini akan mengambil hikmah positif untuk melanjutkan hidup dan bersosialisasi dengan masyarakat, setelah kami bebas dari penjara nanti," ucap narapidana narkoba asal Malang itu.
Dampak Positif
Sementara Kepala Seksi Pembinaan dan Anak Didik (Binadik) LP Kelas II-A Jember, Karno, mengatakan awalnya Kepala Kanwil Depkumham Jatim yang memiliki inisiatif untuk megikutsertakan sejumlah narapidana dalam kegiatan JFC yang digelar di Kabupaten Jember.
"Kepala Kanwil Depkumham Jatim memberikan izin kepada Lapas Wanita Malang dan Lapas Jember untuk memilih sejumlah napi, agar mereka berpartisipasi dalam JFC," tuturnya.
Selain lima narapidana, lanjut dia, seorang petugas Lapas Jember juga ikut memeriahkan Jember Fashion Carnival dengan harapan bisa meramaikan ajang peragaan busana yang sudah mendunia itu.
"Narapidana yang ikut JFC itu adalah narapidana yang menjalani program asimilasi (program yang dijalani narapidana untuk beradaptasi ke masyarakat)," kata Karno.
Menurut dia, lima narapidana yang menjadi peserta JFC sudah menjalani masa hukuman 2/3 dari masa hukumannya, sehingga sebentar lagi mereka akan keluar dari penjara.
"Kami berharap kelima narapidana itu bisa diterima dengan baik di tengah masyarakat karena selama ini masih banyak warga yang menilai negatif terhadap mantan narapidana," jelasnya.
Petugas akan mengawal dengan ketat lima narapidana peserta JFC itu selama latihan dan berlenggak-lenggok di "catwalk" sepanjang 3,6 km untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Ia menjelaskan, banyak dampak positif yang ditunjukkan lima narapidana yang berpartisipasi dalam Jember Fashion Carnival seperti perubahan sikap, perilaku, dan tutur kata mereka sehari-hari di dalam penjara.
"Perubahan itu diharapkan bisa ditularkan kepada penghuni lapas lainnya, sehingga mereka termotivasi dan tetap semangat untuk melanjutkan hidup yang lebih baik," katanya menjelaskan.
Dalam memenuhi kebutuhan pembuatan kostum narapidana, sejumlah petugas Lapas Kelas II-A Jember banyak membantu, namun peserta JFC dari narapidana tersebut tetap mendapatkan pengawalan yang ketat pada saat belanja kebutuhan.
"Kami sangat mendukung kreativitas lima narapidana yang berpartsipasi dalam peragaan busana dengan catwalk terpanjang di dunia," katanya, menambahkan.
Secara terpisah, Presiden JFC Dynand Fariz, mengaku bangga dengan kreativitas lima narapidana yang unik dan spektakuler dalam ajang karnaval busana yang memiliki "catwalk" sepanjang 3,6 km.
"Kami mempersilakan siapapun yang ingin menjadi peserta JFC termasuk narapidana karena semua orang punya hak untuk menciptakan karya yang luar biasa. Penjara tidak bisa membatasi kreativitas seseorang," tuturnya.
JFC merupakan sebuah wadah untuk memoles bakat dan kreativitas yang dimiliki oleh anak-anak bangsa dalam hal "fashion", sehingga mereka mampu menciptakan kostum atau busana unik dan spektakuler sesuai dengan tema yang ditentukan.
"Seluruh peserta merancang sendiri kostum yang digunakan dalam setiap even JFC, sehingga mereka dituntut untuk menciptakan ide yang kreatif dan spektakuler untuk digunakan dalam karnaval busana Jember yang sudah dikenal di dunia itu," paparnya.
Lima narapidana yang berpartisipasi dalam JFC X, lanjut dia, mendapatkan pengarahan dan pembinaan selama beberapa bulan seperti peserta lainnya, sehingga tidak ada diskriminasi dalam pembekalan seluruh JFC.
"Saya tidak ingin memandang narapidana itu dengan sebelah mata karena kenyataannya mereka mampu merancang busana defile Borneo yang unik dan fantastis," ucap peraih "Kick Andy Heroes Award" itu.
Dynand juga mengucapkan terima kasih kepada Lapas Kelas II-A Jember dan Lapas Wanita Kelas II-A Malang atas partisipasi narapidana dalam pagelaran Jember Fashion Carnival, sehingga memberikan inspirasi kepada narapidana lainnya.
"Memberikan kesempatan narapidana untuk berkarya dalam JFC merupakan langkah yang positif untuk membangkitkan semangat dan motivasi mereka dalam menjalani hidup yang lebih baik," ucap pria asal Jember itu.
Potensi Wisata
Peragaan busana yang unik dan spektakuler yang dikemas dalam ajang Jember Fashion Carnival mampu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik ke Kabupaten Jember, bahkan puluhan ribu penonton terhipnotis melihat karya-karya anak bangsa yang sangat luar biasa.
Kepala Kantor Pariwisata Jember, Arif Tjahyono, mengatakan kegiatan JFC menempatkan Kabupaten Jember menduduki peringkat ke-7 dari 38 kabupaten/kota di Jatim untuk kunjungan wisata, bahkan seluruh hotel di Jember penuh oleh wisatawan yang ingin melihat langsung parade busana dengan "catwalk" terpanjang di dunia itu.
"Setiap even JFC tercatat ribuan wisatawan yang hadir, bahkan tidak sedikit wisatawan mancanegara yang menyaksikan momentum spektakuler yang diasuh oleh Dynand Fariz itu," tuturnya.
Ke depan, lanjut dia, JFC diharapkan sebagai ikon wisata budaya di Indonesia karena berbagai kostum yang ditampilkan dalam peragaan busana JFC berasal dari budaya sejumlah daerah di Indonesia dan dunia seperti Bali, Borneo, India, Royal Kingdom Inggris, dan Athena.
"Kami ingin mewujudkan Kabupaten Jember menjadi kota pariwisata gaya hidup (life style) dunia pada tahun 2020 mendatang, dengan perintisan International Carnival Institute yang digagas JFC kerja sama dengan Politeknik Negeri Jakarta," katanya menjelaskan.
Menurut dia, beberapa daerah yang berhasil membangun pariwisata gaya hidup antara lain Pulau Bali, Surabaya, Yogyakarta, dan Solo, sehingga Jember memiliki potensi sebagai pariwisata "life style" dengan momentum JFC yang spektakuler itu.
Jumlah fotografer yang terdaftar dalam laman JFC tercatat sebanyak 1.098 fotografer, baik fotografer lokal, nasional dan internasional yang telah mendaftar untuk mengabadikan momentum Jember Fashion Carnival dengan tema "Eyes on Triumph".
"Kreativitas anak bangsa yang disajikan dalam JFC diharapkan dapat membuat terobosan baru dalam mengenalkan Jember di kancah internasional, sehingga kota kecil yang dikenal sebagai Kota Tembakau ini memiliki nama yang berkibar di dunia dengan JFC," ujarnya menambahkan.
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026