Jakarta - Pergerakan mata uang rupiah tertekan terhadap dolar AS seiring pelaku pasar masih melanjutkan aksi lepas setelah pada hari sebelumnya mata uang Indonesia menguat. Nilai tukar rupiah Selasa pagi terhadap dolar AS di pasar spot antarbank di Jakarta turun 23 poin menjadi Rp8.547 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya senilai Rp8.524. Analis pasar uang dari Bank Saudara Tbk, Rully Nova di Jakarta, Selasa mengatakan, pelaku pasar masih melanjutkan aksi lepas seiring dengan masih bergejolaknya ekonomi dunia. Rully Nova mengatakan, peringkat ekonomi Italia diekspektasikan menurun dipicu oleh tes perbankan Uni Eropa dalam menghadapi skema ekonomi negatif di kawasan itu. "Di pasar muncul spekulasi, perbankan Italia mungkin tidak akan lolos," katanya. Rully menambahkan, minimnya isu positif di pasar global juga memicu pelaku pasar mengamankan nilai asetnya pada mata uang kuat seperti dolar AS, sehingga memicu mata uang rupiah bergerak terkoreksi. "Saat ini masih minim isu positif, seperti beberapa negara Eropa diekspektasikan mengalami krisis utang seperti peringkat perbankan Italia yang turun akibat efek domino dari Yunani, diekspektasikan risiko akan lebih tinggi," kata dia. Ia mengatakan, sentimen negatif global diharapkan tidak berkepanjangan seiring munculnya ekspektasi bahwa Italia akan menjadi sasaran krisis utang Uni Eropa berikutnya. Selain itu, tambah dia, pelemahan rupiah hari Selasa salah satunya juga dipicu oleh koreksi teknikal setelah "rally" cukup signifikan hingga menyentuh posisi Rp8.510 akhir pekan lalu. Ia menambahkan, sentimen pasar global yang masih dalam kondisi memburuk seperti pasar AS dan Eropa yang ditutup turun sejak akhir minggu lalu berlanjut sehingga sentimen negatif ini berdampak ke pasar Asia hari ini.


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026