Museum Opera Canton dan upaya pelestarian seni tradisi China

id opera canton, museum opera, musem tradisi china

Museum Opera Canton dan upaya pelestarian seni tradisi China

Sebuah kolam membatasi panggung seni Opera Canton dengan penonton di Museum Seni Opera Canton di Kota Guangzhou, China. (Masuki M Astro)

Gungzhou (ANTARA) - China memiliki sejarah panjang dalam hal peradaban, baik mengenai dunia pengobatan maupun seni budaya yang luhur. Di antara seni budaya luhur itu adalah opera Cantonese atau opera Canton.

Untuk melestarikan seni yang diklaim berasal dari Kota Guangzhou itu, Pemerintah setempat membangun Museum Opera Cantonese yang berlokasi di sebuah kota tua di Distrik Li Wan, Guangzhou, Provinsi Guangdong.

Museum yang menempati areal seluas 17.000 meter persegi itu mulai dibuka untuk masyarakat umum pada 9 Juni 2016. Bangunan museum itu memadukan materi-materi lama dan yang baru. Untuk bahan lantai menggunakan batu-batu lama yang diambil dari berbagai tempat di China, sedangkan dekorasi dan ukiran di atap bangunan serta tanaman peneduh tergolong baru.

Personel Humas Museum Seni Opera Canton Mai Jingbo mengatakan bahwa opera Canton dulunya dimainkan oleh para seniman yang hidup di atas perahu. Selain menjadi alat transportasi, perahu itu sekaligus menjadi rumah bagi para seniman Opera Canton. Mereka biasanya berlayar di Sungai Mutiara yang membelah Kota Guangzhou untuk "menjajakan" kesenian itu. Namun ketika hendak pentas, mereka turun ke darat dan mendirikan panggung yang biasanya tidak jauh dari sungai.

Karena itulah di depan panggung pementasan Opera Canton di museum tersebut juga dibuat kolam semacam sungai yang memisahkan antara penonton dengan panggung. Mereka yang tampil di museum itu, kalau seniman nonprofesional biasanya pentas dua kali dalam sepekan, sedangkan yang profesional tergantung jadwal.

Opera Canton adalah semacam teater yang semua dialognya disampaikan dalam format berlagu, yang biasanya untuk suara perempuan melengking pada nada-nada tertentu. Para pemain opera itu mengenakan busana tradisional China kuno dengan dandanan mencolok.

"Kalau di Jawa ini semacam seni ludruk. Kan ada gerak seperti tarian juga di dalamnya," kata Agus Fathuddin Yusuf, seorang pengunjung museum dari Semarang, Jawa Tengah.

Selain menyediakan panggung untuk seniman Canton tampil, museum itu juga menyelenggarakan workshop atau pelatihan sebagai sarana belajar bagi anak-anak usia 4-5 tahun. Mereka datang ke arena workshop awalnya merasakan kesenian itu ditampilkan, kemudian mereka diajak untuk terlibat bermain.

"Dengan diperkenalkan sejak dini, kami harapkan anak-anak memiliki ketertarikan untuk ikut melestarikan seni ini. Ketika mereka lulus SMA, jika berminat mendalami seni Opera Canton, bisa belajar ke Institut Drama Tiongkok di Kota Beijing yang di dalamnya ada jurusan Seni Opera Canton," kata Jinbo.

Ia menjelaskan bahwa dukungan pemerintah daerah terahadap seni kuno tersebut juga tinggi. Pemerintah Distrik Li Wan sangat mendukung anak-anak sejak kecil untuk belajar opera Canton.

Tidak tanggung-tanggung, Presiden Xi Jinping juga memberikan perhatian khusus kepada kesenian tradisi ini. Saat berkunjung ke museum itu pada 24 Oktober 2018, Presiden Xi Jinping meminta pemerintah lokal betul-betul mendukung upaya pelestarian kesenian yang banyak mengangkat cerita-cerita kuno tentang China di masa lalu itu.

"Makanya Pemerintah Kota Guangzhou juga mendorong anak-anak sejak dini dikenalkan mengenai kesenian ini, misalnya kami mengundang anak-anak sekolah dasar untuk datang ke museum dan mereka menggambar tentang tokoh-tokoh dalam Opera Cantonese," katanya.

Pengenalan opera lewat kegiatan menggambar itu dilakukan dengan tujuan anak-anak secara tidak langsung akan mempelajari apa yang ada di dalam kesenian yang dialog-dialognya disampaikan dengan cara dilagukan.

Ditanya bagaimana hasil dari upaya pemerintah mendorong anak-anak muda China meminati seni tradisi itu, Jinbo mengaku belum memiliki data pasti, apakah terjadi peningkatan minat atau tidak.

Ia hanya menunjukkan bukti bahwa seni itu masih hidup dengan adanya 300-an kelompok atau grup opera di Guangzhou. Apalagi, katanya, saat ini di kota itu sudah ada Pusat Kesenian Opera Canton atau Hong Xian Nii yang juga terlibat dalam upaya pelestarian seni Opera Canton.

Hanya saja ia mengakui bahwa perkembangan teknologi informasi cukup mengkhawatirkan bagi minat generasi muda untuk menyenangi Opera Canton.
 
"Tapi pemerintah lokal di sini terus berupaya agar generasi muda senang menonton, bahkan juga bisa menjadi pemain Opera Canton. Termasuk pemerintah pernah mengangkat tema Opera Canton ini dalam kartun, film dan sinetron," katanya.

Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Budaya Asia Guangdong University of Foreign Studies Xiao Lixian mengatakan bahwa dirinya dan keluarga tidak terlalu sering menonton seni Opera Canton yang pada 2009 ditetapkan sebagai Warisan Dunia tak Benda oleh Unesco tersebut.

"Tapi beberapa kali saya mengajak anak-anak untuk menonton agar mereka mengenai kesenian tradisional ini," kata perempuan yang memiliki nama Indonesia Melati itu.

Pendidik yang pernah mengenyam pendidikan di pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu mengaku optimistis Opera Canton akan tetap lestari, karena banyak hal yang mendukung upaya tersebut, termasuk mengenalkannya kepada generasi sejak dini dan lewat berbagai cara.

Sementara di provinsi lain, Opera Canton juga tetap dilestarikan, yakni di Museum Keyuan di Kota Dongguan, Provinsi Guangdong. Di museum yang merupakan bekas rumah tokoh militer di China itu, Opera Canton dimainkan di lantai dua yang menghadap ke kolam ikan di lantai bawah.

Hanya saja, penampilan opera di museum ini berbeda, karena senimannya tidak mengenakan seragam tradisional China, melainkan seperti penyanyi modern. Mereka tampil layaknya bernyanyi yang biasanya mengandung sebuah cerita dan dibawakan oleh laki-laki dengan perempuan.
Pewarta :
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar