Catatan Akhir Tahun - Menanti Bangkitnya Industri Kulit Tanggulangin

id Industri Tanggulangin, Rebranding Tanggulangin

Catatan Akhir Tahun - Menanti Bangkitnya Industri Kulit Tanggulangin

Pembuatan Mural Single Line Art yang ada di Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (2/11) (Indra) (Indra/)

Sidoarjo, (Antara) - Sudah menjadi rahasia umum jika semburan Lumpur Lapindo sejak 2006 silam membuat banyak pihak terdampak. Ribuan orang terpaksa harus pindah dari tempat tinggal mereka. Terpisah dari tetangga, dan juga sanak keluarga yang selama ini hidup berdampingan.

Kondisi ini  berimbas juga terhadap dunia usaha yang ada di lokasi tersebut. Tidak hanya berimbas langsung, kawasan sentra industri kulit Tanggulangin yang notabenenya berada sekitar dua kilometer dari pusat semburan lumpur Lapindo juga ikut menjadi "korban" dari semburan lumpur Lapindo ini.

Selama ini, Kecamatan Tanggulangin memang lebih dikenal sebagai sentra industri tas, koper, jaket serta asesoris lainnya dengan bahan dasar kulit. Bahkan, banyak di antara produk-produk yang dihasilkan dari Tanggulangin ini sudah menembus pasar ekspor.

Ratusan pelaku usaha, menggantungkan hidupnya di sentra industri kulit ini. Namun, sejak peristiwa semburan lumpur, lambat laun semakin ditinggalkan. Tidak sedikit pula yang harus gulung tikar. Banyak yang beranggapan jika sentra industri ini turut tenggelam akibat semburan lumpur. Kondisi inilah yang mengakibatkan sentra industri kulit
di Tanggulangin ini mati suri.

Tahun-tahun pertama sejak semburan lumpur itu keluar, seakan menjadi kiamat kecil bagi pelaku usaha ini. Industri tas dan koper (Intako) yang menjadi tulang punggung industri ini pun tak bisa berbuat banyak. Berbagai usaha dilakukan masih belum mampu mendongkrak kejayaan mereka.

Industri pariwisata juga masih belum mampu menopang tiang penyangga industri tas dan koper di Tanggulangin. Wisawatan seakan enggan untuk sekedar mampir ke sentra Tanggulangin yang isunya sudah "tenggelam" bersama dengan semburan lumpur.

Dari Surabaya, wisatawan yang hendak ke Malang-Banyuwangi atau juga Bromo, biasanya mampir ke Sentra Industri Tas Tanggulangin. Namun, semenjak peristiwa itu sekarang wisatawan lebih memilih untuk langsung "bablas", tanpa menoleh ke Tanggulangin. Kondisi inilah yang semakin diratapi oleh pelaku usaha di wilayah itu.

"Semakin sedikit yang mau mampir," kata Abdilah salah satu pelaku usaha di wilayah tersebut.

Rebranding Tanggulangin

Dua belas tahun sudah, masa kelabu itu harus dilewati oleh para perajin industri kulit Tanggulangin dengan penuh kepahitan. Pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) mencoba membangkitkan kembali kejayaan kerajinan industri kulit di Tanggulangin. Salah satunya dengan melakukan rebranding di Intako yang selama ini menjadi tetenger dari wisata belanja tas dan koper Tanggulangin.

Rebranding yang dilakukan inipun menyeluruh, mulai dari segi fisik sampai dengan model pemasaran yang dilakukan juga harus mampu mengatasi persoalan yang selama ini masih membelenggu para perajin.

"Dalam rebranding kali ini, ada beberapa kegiatan yakni membuat lomba logo dan tagline, meresmikan wisata 3 in 1 dan lomba karya jurnalistik," kata Direktur IKM Kimia Sandang Aneka dan Kerajinan Kementerian Perindustrian Siti Nur Komariyah beberapa waktu yang lalu.

Rebranding itu memang perlu dilakukan supaya Tanggulangin bisa kembali bersinar kembali. Bahkan mural line art (seni satu garis)  juga dilakukan sebagai upaya untuk menarik perhatian masyarakat datang berbelanja di Tanggulangin.

Untuk menambah semarak, beberapa waktu yang lalu juga dilakukan berbagai kegiatan, termasuk di antaranya lomba menulis dan juga lomba membuat logo rebranding Tanggulangin.

Rebranding adalah strategi pemasaran yang mana perusahaan membuat sebuah nama baru, tagline, simbol, desain yang diciptakan untuk merek yang sudah terkenal dengan tujuan pengembangan, memberikan sebuah pembaharuan di benak konsumen, investor dan pesaing.

Selain dari pemerintah pusat, bantuan dan dukungan juga dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dengan membangun jalan cor sebagai salah satu akses utama untuk menuju ke lokasi ini.

Jalan sepanjang tiga kilometer itu dibangun supaya memanjakan wisatawan yang akan berbelanja di wisata industri tas Tanggulangin.

Semoga, berbagai upaya yang dilakukan ini mampu membangkitkan kembali kejayaan industri kulit yang ada di Tanggulangin. Semoga.(*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar