Wali Kota : Inflasi Kediri Termasuk Stabil

id pemkot kediri,kota kediri ,wali kota kediri abdullah abu bakar ,inflasi kediri stabil

Wali Kota : Inflasi Kediri Termasuk Stabil

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar saat rilis tentang inflasi di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Jawa Timur, Selasa (4/12). Antara Jatim/ Asmaul Chusna

Inflasi di Kota Kediri termasuk stabil. Nah hal itu harus terus dilakukan pemantauan dalam hal harga dan stok secara dengan lihat pasar tradisional dan pasar modern juga serta distributornya bagaimana. Selain itu cara kita pakai Siskaperbapo (website yang menampilkan stok dan harga pangan di Jawa Timur)
Kediri (Antaranews Jatim) - Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengungkapkan bahwa inflasi di Kota Kediri, Jawa Timur, termasuk stabil, sehingga harga bahan pokok juga masih terjangkau.

"Inflasi di Kota Kediri termasuk stabil. Nah hal itu harus terus dilakukan pemantauan dalam hal harga dan stok secara dengan lihat pasar tradisional dan pasar modern juga serta distributornya bagaimana. Selain itu cara kita pakai Siskaperbapo (website yang menampilkan stok dan harga pangan di Jawa Timur)," katanya di Kediri, Selasa.

Ia juga mengatakan pemantauan stok juga dilakukan melalui koordinasi dengan Perum Bulog Kediri, guna memastikan ketersediaan stok bahan pangan. Dari evaluasi yang telah disamapikan oleh bulog, ternyata stok bisa mencukupi sampai dengan awal 2019, masih di angka yang aman.

Lebih lanjut, Wali Kota juga mengatakan pemkot juga melakukan pemantauan jalur distribusi hingga operasi pasar murni yang dilakukan di setiap kelurahan yang ada di Kota Kediri. Operasi pasar murah dilakukan dengan menjual komoditas bahan pokok misalnya beras, minyak goreng, gula pasir, hingga telur ayam.

Abu juga meminta agar warga belanja secara bijak dengan membeli berbagai macam barang sesuai dengan kebutuhan. Terlebih lagi saat hari besar keagamaan, tahun baru, tingkat kebutuhan masyarakat cukup tinggi.

Inflasi di Kediri, pada November 2018 mencapai 0,40 persen lebih tinggi ketimbang Oktober 2018 yang hanya 0,16 persen. Inflasi ini didorong terutama oleh kenaikan harga pada komponen bahan makanan khususnya komoditas daging ayam ras, bawang merah, dan beras.

Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri Nasrulloh mengungkapkan dari evaluasi, diketahui ternyata kenaikan harga daging ayam ras disebabkan oleh berkurangnya populasi ayam pedaging di daerah sentra produksi akibat tingginya populasi ayam ras yang mati pada musim pancaroba.

Selain itu, kenaikan harga bawang merah di tengah musim panen disebabkan oleh masa jemur yang singkat pada musim penghujan, sehingga bawang merah lebih cepat membusuk.

Pihaknya juga mengungkapkan prospek inflasi IHK pada tahun 2018 ini masih terkendali pada sasaran inflasi nasional 3,5 persen (yoy).

"Koordinasi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat terutama sebagai antisipasi meningkatnya harga komoditas menjelang akhir tahun," kata Nasrulloh. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar