Banyuwangi Buka Layanan Terpadu Pekerja Migran

id Layanan terpadu pekerja migran, mal pelayanan publik, mal layanan publik

Banyuwangi Buka Layanan Terpadu Pekerja Migran

Moeldoko bersama Bupati Abdullah Azwar Anas seusai peresmian Layanan Terpadu Pekerja Migran di Banyuwangi, Selasa (27/11). (Istimewa)

Banyuwangi (Antaranews Jatim) - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, membuka Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) untuk pekerja migran yang diresmikan oleh Kepala Kantor Staf Presiden Jendral (Pur) Moeldoko di Mal Pelayanan Publik Banyuwangi, Selasa. 

Peresmian tersebut dilakukan bersamaan dengan pertemuan nasional penggerak Desa Peduli Buruh Migran (Desbumi). Desbumi merupakan inisiatif lokal yang dibangun untuk mendorong terwujudnya perlindungan terhadap pekerja migran, terutama perempuan, sejak dari desa. Pembentukan Desbumi merupakan inisiatif Migrant Care, dan Maju Perempuan untuk Penanggulangan Kemiskinan (Mampu). Pembentukan Desbumi ini didukung pemerintah dan Kedutaan Besar Australia.

Dikatakan Moeldoko, ini merupakan langkah tepat untuk meningkatkan perlindungan dan pelayanan kepada pekerja migran. LTSA ini, kata dia, akan memberi kepastian dan efektivitas pelayanan migrasi para pekerja.

“Ini akan mempermudah pengurusan dokumen mereka. Kalau dulu terpisah-pisah, pasti waktu dan biaya yang dibutuhkan lebih besar, akhirnya banyak yang memilih jalur ilegal lewat calo dokumen. Dengan LTSA ini, bisa meminimalisir hal itu,” katanya.

Menurut Moeldoko, pembentukan LTSA ini sejalan dengan program Desbumi dari Migrant Care dan Desmigratif dari Kementerian Ketenagakerjaan. “Ini bagus, kebijakan yang mengalir dari pusat akan selaras dan dikawal dengan baik dari daerah hingga desa. Apalagi didukung dengan peran besar organisasi masyarakat sipil (civil society organization/CSO), pasti persoalan pekerja migran akan bisa diminimalisasi,” kata mantan Panglima TNI itu.

Dalam kesempatan itu, Moeldoko berharap pemkab dan desbumi memberikan pendampingan bagi keluarga buruh migran. Misal dengan membentuk komunitas parenting bagi anak dan keluarga pekerja migran.

“Perlu juga diajarkan manajemen pengelolaan keuangan. Agar remitansi bisa dimanfaatkan dengan baik, sehingga mereka tidak harus bolak-balik kembali bekerja di luar,” kata Moeldoko.

Mal Pelayanan Publik Banyuwangi yang menjadi lokasi LTSA merupakan tempat pelayanan terpadu di mana semua pengurusan dokumen dilakukan di satu tempat. Mal tersebut telah melayani 199 jenis layanan dalam satu atap, mulai administrasi kependudukan seperti akte kelahiran dan kematian, kartu identitas anak, KTP; beragam jenis izin usaha, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, PDAM, pelayanan izin kendaraan, hingga pembayaran retribusi daerah. Termasuk ada layanan administrasi pernikahan dari Kementerian Agama.

Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi. Menurut dia, ini sarana awal untuk memberi layanan migrasi yang aman bagi buruh migran.

“LTSA ini akan mengurangi mata rantai pengurusan birokrasi, mempermudah proses migrasi. Baik negara maupun calon buruh migran bisa saling langsung kroscek dokumen yang dibutuhkan. Seperti status kependudukan pengurus, atau status pernikahan. Dengan LTSA ini, saya kira negara hadir,” kata Wahyu.

Sementara itu, Bupati Banywuangi Abdullah Azwar Anas menjelaskan, pihaknya terus meningkatkan kinerja pelayanan publik, termasuk yang terbaru pelayanan pengurusan dokumen keperluan calon pekerja migran.

“Sekarang, calon pekerja migran dari Banyuwangi makin mudah mengurus persyaratannya. Semuanya cukup dilakukan di Mal Pelayanan Publik,” kata Anas.

Anas menambahkan, selain mendekatkan layanan, LTSA juga menjadi instrumen untuk mencegah dan mengurangi migrasi pekerjaan migran secara non prosedural. “Dengan pelayanan yang semakin dekat, prosesnya bisa lebih mudah dan biayanya pun bisa jauh lebih murah. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi calon pekerja migran untuk mengambil jalur ilegal,” kata Anas. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar