Petani Keluhkan Penurunan Harga Tembakau

id Petani tembakau, tembakau,harga tembakau, tembakau Tulungagung

Petani Keluhkan Penurunan Harga Tembakau

Petani menjemur tembakau rajangan di Waung, Tulungagung, Senin (15/10) (Ist)

"Petani bisa dibilang untung, jika harga tembakau minimal dikisaran Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogramnya, itu minim," kata Juwari.
Tulungagung (Antaranews Jatim) - Petani tembakau di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur mengeluhkan penurunan harga bahan baku rokok tersebut hingga 30-an persen, yakni dari sebelumnya di kisaran Rp50 ribu-Rp60 ribu menjadi Rp30 ribu-Rp40 ribu per kilogram.

"Itu untuk tembakau warna kuning yang menggunakan gula. Hampir semua jenis tembakau mengalami penurunan," tutur Sutikno, petani tembakau di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, Senin.

Untuk jenis tembakau tanpa campuran gula, lanjut Sutikno, saat ini di kisaran Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.

Turun sekitar 20 persen dibanding harga tembakau jenis yabg sama tahun lalu yang mencapai kisaran Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.

"Rasio penurunan yang sama terjadi untuk tembakau kualitas super yang warna hitam. Kini di kisaran harga Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram," katanya.

Menurut dia, untuk harga saat ini, masih dibilang minim. Apalagi jika dibandingkan dengan biaya produksi dari mentah hingga jadi selalu naik setiap tahunnya.

"Ditambah lagi dengan upah buruh yang sebelum Rp50 ribu per hari kini menjadi Rp60 ribu per hari," ujar Juwari, petani tembakau lain di wilayah yang sama.

Menurut petani, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tren penurunan harga tembakau saat ini.

Pertama, masih banyaknya stok tembakau di tahun lalu di gudang para pengepul, dan kedua dipicu oleh lesunya permintaan pasar.

"Petani bisa dibilang untung, jika harga tembakau minimal dikisaran Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogramnya, itu minim," kata Juwari.

Karenanya, untuk meminimalisir kerugian, petani memilih strategi menimbun tembakau yang siap dipasarkan untuk dijual lima hingga enam bulan ke depan, dengan melihat kondisi harga di pasaran.

"Kami timbun terlebih dahulu, nanti dilihat harga di lima bulan ke depan. Kalau dijual saat ini rugi kita," ujar Juwari. (*)
Pewarta :
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar