Dari Dolly Hingga Dikenal di 27 Hotel

id Forum Diskusi Bisnis, Atiek, Bisnis, eksDolly, dari Dolly dikenal di 27 Hotel

Dari Dolly Hingga Dikenal di 27 Hotel

Siti Huraira Burhan, pendiri dan Creative Director di Huraira Leather Bag, saat menuturkan jurus bisnisnya dalam Forum Inspirasi Bisnis di Meeting Room Auto 2000 Kertajaya, Surabaya.(ist)

Hingga saat ini, KUB Mampu Jaya milik Atiek dan kawan-kawan mampu memproduksi 1.000 slipper dalam sehari. Bahkan bisa sampai 1.500 sliper hanya dalam tempo 24 jam
Selalu ada jalan keluar bagi orang yang terus berusaha mencarinya, apalagi jalan keluar itu untuk usaha atau wiraswasta halal. Hal itu setidaknya dialami Atiek Triningsih, salah satu wistaswasta asal Putat Jaya, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Kawasan Putat Jaya yang menjadi "home base" atau lokasi Atiek berwiraswasta sebelumnya terkenal dengan Dolly, atau lokalisasi terbesar di Asia Tenggara.

Saat Dolly masih normal, tak sulit bagi Atiek untuk mendapatkan uang Rp50-100 ribu  rupiah dalam sehari, dengan berjualan pakaian jadi ke para Pekerja Seks Komersil (PSK) serta mengantarkan mereka bepergian ke suatu tempat.

Tapi setelah ada kebijakan Pemkot Surabaya menutup kawasan lokalisasi , banyak yang berubah. Banyak warga yang harus kehilangan pendapatannya.

Wajar bila tidak sedikit warga yang merasa dirugikan dengan penutupan lokalisasi di sekitar Putat Jaya tersebut.

Namun bagi Atiek hal itu tak berlaku. Niat besar untuk terus berusaha dan mengubah lingkungannya menjadi lebih baik membuat dia kemudian menerima kebijakan Pemkot Surabaya dengan pelatihan.

Program ini, adalah bagian program pemulihan perekonomian pascapenutupan Dolly dengan memberikan pelatihan bagi warga terdampak.

Kemudian, Atiek dan beberapa rekannya yang juga warga terdampak mengikuti pelatihan yang diberikan oleh Pemkot Surabaya yang bekerja sama dengan Disperindag Kota Surabaya.

Pada pelatihan tersebut, Atiek tertarik pada pembuatan alas kaki, yakni sepatu dan sandal.

"Tiga kali saya mengikuti pelatihan. Sampai pada akhirnya saya merasa bisa meski masih memiliki keterbatasan karena tidak punya alat yang memadai,” tuturnya.

Merasa mendapatkan cukup ilmu, bersama beberapa rekannya, Atiek kemudian membuat sepatu kulit sekitar Juni 2014.

Namun setelah sebulan produksi, perempuan berjilbab ini mengaku belum bisa memasarkan barangnya, karena susah mendapatkan pembeli dan masih minder dengan produksinya sendiri.

Langkah demi langkah dia jalani, dan usaha demi usaha pemasaran terus dia cari agar barang produksinya yang selama sebulan sudah menumpuk di gudang itu bisa terjual dan laku.
 
Sampai pada akhirnya dia bertemu Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini yang ketika itu berkunjung ke kampung Putat Jaya, dan Atiek pun langsung "curhat" atau menumpuhkan segala keluhannya terkait produksi sepatu dan sandalnya.

"Dari situ saya dapat jawaban. Pesanan pertama saya dapatkan dari kelurahan. Setelah itu, mulai melebar ke kecamatan. Lumayan dapat banyak orderan karena kecamatan punya banyak kelurahan dinas-dinas maupun Pemkot,” tutur Atik.

Usaha atik pun kini mulai dikenal di kalangan kelurahan, kecamatan hingga dinas-dinas di kawasan Pemkot Surabaya, bahkan berkembang ke pembuatan slipper (sandal hotel).
 
Dengan bantuan Kecamatan Sawahan, Atiek beserta dua penggerak UKM fokus usaha slipper hingga saat ini sudah ada 27 hotel di Surabaya yang menjadi pelanggan KUB Mampu Jaya yang dikelola Atiek dan kawan-kawan.

Sebelum mendapat banyak pesanan hotel, Atiek mengawalinya hanya menerima order dari satu hotel di Surabaya.

"Namun, hotelnya sempat mengeluh karena garapan kita lama. Mereka tidak bisa order ke kita lagi kalau waktunya terlalu lama. Saya dan teman-teman mencari cara agar pembuatan bisa cepat,” terang Atiek.
 
Akhirnya, usaha dan semangatnya untuk terus berusaha menemukan jalan. Sekali lagi, selalu ada jalan keluar bagi orang yang terus berusaha mencarinya, hingga dia dan kawan-kawan mampu membuat slipper secara cepat dengan bantuan mesin dan kerja sama rekan-rekannya.
 
Hingga saat ini, KUB Mampu Jaya milik Atiek dan kawan-kawan mampu memproduksi 1.000 slipper dalam sehari. Bahkan bisa sampai 1.500 sliper hanya dalam tempo 24 jam. 

Forum Bisnis

Cerita Atiek itu terungkap dalam diskusi forum inspirasi bisnis yang digelar Sureplus.id di Surabaya.
 
Ketua Forum Inspirasi Bisnis, Budi Suryo DA mengatakan, forum ini diperuntukkan bagi semua masyarakat tanpa terkecuali, baik yang telah mempunyai jiwa wirausaha ataupun yang belum memiliki jiwa wirausaha, agar mempunyai semangat juang dalam hidupnya untuk berbisnis.

"Pendidikan kewirausahaan ini amat penting dan menarik untuk dibahas. Karena dari forum ini diharapkan muncul enterpreneur baru yang mampu mewarnai perekonomian Indonesia," tutur Budi. 

Budi mengatakan, forum ini bertujuan memberikan bekal kepada masyarakat yang berminat menyelami dunia kewirausahaan dari para praktisi yang dihadirkan dalam acara tersebut. 

"Di sini, para praktisi akan membagikan pengalaman, tips-tips, maupun suka-duka yang mereka alami selama merintis usaha yang saat ini mereka geluti. Dengan begitu, nantinya bisa menginspirasi siapa saja yang berniat atau ingin menjadi seorang enterprenur," tutur Budi.

Ia berharap, melalui diskusi inspirasi bisnis ini masyarakat memiliki ketertarikan di dunia usaha, dan bisa mendapatkan bekal serta wawasan mengenai bagaimana cara berwirausaha agar kesuksesan bisa dicapai.

Selain Atiek, hadir pula Siti Huraira Burhanch yang merupakan pendiri sekaligus Creative Director Huraira Leather Bag, brand produk fashion spesialis tas kulit yang keberadaannya diakui di dalam dan luar negeri, dan memiliki koleksi unik, dan diakui dunia internasional.

Kemudian, nara sumber berikutnya Miming Merina yang menekuni bisnis makanan minuman kemasan dan menampung produk Usaha Kecil Menengah (UKM), dimana pengiriman barang sudah sampai ke Malaysia dan Brunai.

Tidak hanya itu saja, Miming juga menggeluti bidang kerajinan tangan dan karyan teman-teman UKMnya telah dipasarkan lewat daring maupun luring melalui pameran. (*)

  
 
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar