Pedagang: Harga Telor Naik karena Banyak Dikirim ke Luar Kota

id harga telur,harga telor,telor tulungagung,harga telor naik

Pedagang: Harga Telor Naik karena Banyak Dikirim ke Luar Kota

Ilustrasi - Pedagang menimbang telur ayam di Jalan Kabupaten, Pamekasan, Rabu (9/5). Menjelang bulan puasa tahun ini harga telur ayam di daerah itu naik dari Rp20.000 menjadi Rp25.000 hingga Rp26.000 per kg. Antara Jatim/Saiful Bahri/zk/18

Tak hanya telur ayam ras yang mengalami lonjakan, harga telur kampung, telur bebek dan telur puyuh juga mengalami kenaikan.
Tulungagung (Antaranews Jatim) - Sejumlah pedagang menduga kenaikan harga telur dalam sepekan terakhir di wilayah Tulungagung dan sekitarnya karena banyak peternak yang memilih mengirim produksi telur hasil ternak ayam mereka ke luar daerah ketimbang memenuhi stok lokal.

"Suplai ke luar kota banyak. Akibatnya stok lokal menipis, padahal permintaan dan kebutuhan tinggi," kata Mahmudah, salah seorang pedagang telur di pasar tradisional Ngemplak, Kota Tulungagung, Jawa Timur, Rabu.

Ia mengaku tahu fenomena itu dari peternak langgananya, juga pengakuan sejumlah pedagang lain yang mengeluhkan sulitnya mendapat pasokan telur, khususnya jenis ras.

Kendati masih dapat jatah (suplai), namun volumenya kini dibatasi. Akibatnya, perlahan namun pasti harga telur mengalami kenaikan sejak sepekan terakhir.

Jika saat Lebaran lalu harga telur ayam ras masih di kisaran Rp20 ribu per kilogram, kini justru naik menjadi Rp27 ribu hingga Rp28 ribu per kilogram.

Tak hanya telur ayam ras yang mengalami lonjakan, harga telur kampung, telur bebek dan telur puyuh juga mengalami kenaikan.

Telur ayam kampung kini dijual sekitar Rp2.500 per butir, dari sebelumnya Rp2.300 pada satuan yang sama.

Sementara telur bebek kini mencapai Rp2 ribu per butir, menjadi Rp2.500.

"Telur puyuh juga naik menjadi Rp2.600 per kilogram, sebelumnya masih Rp2.400 per kilogram," kata Mahmudah.

Akibat kenaikan itu, bagi pedagang, penjualan menurun drastis. Dalam kondisi normal Mahmudah sejumla pedagang telur lain mengaku biasanya bisa menjual hingga 60 kilogram lebih telur ayam ras.

Namun saat ini, omzet mereka turun sekitar 50 persen. "Bisa menjual 30 kilogram saja sudah bagus," ucap Siti Rohmah, pedagang lain.

Versi peternak, kenaikan harga telur ayam ras bukan semata karena suplai lebih banyak ke luar kota ketimbang untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.

Seperti diungkapkan Rudiani, peternak ayam ras petelor di Desa Bangoan, Kedungwaru, produksi telur ayam ras saat ini memang mengalami penurunan antara 15-20 persen.

"Selain itu populasi ayam ras petelur di tingkat peternak musim ini memang sedang menurun karena banyak yang melakukan peremajaan," ujarnya.

Rudiani juga menduga pelarangan antibiotik AGP dalam campuran pakan oleh pemerintah dia sinyalir ikut menjadi faktor penyebab turunnya kuantitas produksi ayam ternak mereka. (T.KR-DHS)
Pewarta :
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar