Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Kamis, mengatakan, adanya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia insidentil di bawah Gubernur BI yang baru Perry Warjiyo dimana kembali memutuskan untuk menaikan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen tampaknya sudah 'price in' dimana pelaku pasar sudah memperkirakan sebelumnya.
"Alhasil, Rupiah pun tidak banyak mengalami pergerakan. Bahkan harapan untuk mengalami kenaikan pun juga tidak terjadi seiring sudah ter- 'price in- nya sentimen tersebut," ujar Reza.
Menurut Reza, pergerakan Rupiah lebih banyak merespon negatif kondisi global dimana laju mata uang Euro mengalami penurunan dibandingkan Dolar AS setelah pelaku pasar mengkhawatirkan kondisi politik di Italia.
Ia menuturkan, fluktuasi Rupiah yang cenderung berkurang diharapkan masih membuka peluang Rupiah untuk kembali menguat.
"Selain itu, diharapkan sentimen dari dinaikannya suku bunga acuan dapat direspon positif untuk membuka peluang kenaikan Rupiah," kata Reza.
Di sisi lain, pergerakan Dolar AS di pasar valas global cenderung berbalik melemah setelah Euro menguat.
Penguatan Euro terjadi setelah adanya potensi dilakukannya referendum dan koalisi partai untuk mengatasi kemelut politik di pemerintahan Italia.
Adapun Rupiah diestimasikan akan bergerak dengan kisaran support Rp13.970 per dolar AS dan resisten Rp13.988 per dolar AS.
IHSG
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis dibuka menguat sebesar 26,21 poin atau 0,44 persen ke posisi 6.037,26.
Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak naik 6,61 poin (0,69 persen) menjadi 970,09. (*)
Pewarta: Citro AtmokoEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.