Polisi Blitar Tahan Pengepul Minuman Keras Oplosan

id minuman keras oplosan,polresta blitar ,kota blitar ,minuman keras ,arak jowo ,Kepala Polres Kota Blitar AKBP Adewira Negara Siregar

Polisi Blitar Tahan Pengepul Minuman Keras Oplosan

Aparat Polresta Blitar, Jawa Timur, menahan pengepul minuman keras oplosan. Foto Istimewa

Minumannya dioplos dengan air mentah, jadi bisa memperbanyak keuntungan
Blitar (Antaranews Jatim) - Aparat Kepolisan Resor Kota Blitar, Jawa Timur, menahan seorang perempuan pengepul minuman keras berikut barang bukti sekitar 3 ribu liter minuman oplosan.

Kepala Polres Kota Blitar AKBP Adewira Negara Siregar mengemukakan, polisi menahan DYA (49), warga Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Ia ditangkap dari informasi yang didapat polisi, bahwa yang bersangkutan adalah pengepul minuman keras jenis arak jowo.

"Minumannya dioplos dengan air mentah, jadi bisa memperbanyak keuntungan," katanya di Blitar, Selasa.

Pelaku sudah lama terjun di usaha ini. Dia menjual minuman keras itu pada langganannya di Blitar dan sekitarnya. Polisi juga sudah lama mengintai yang bersangkutan, dan langsung menggerebek begitu diketahui ada barang bukti.

Dalam penangkapan itu, yang bersangutan tidak melawan petugas. Ia pasrah saat dibawa polisi ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut. Selain mengamankan yang bersangkutan, polisi juga mendapati banyak barang bukti berupa minuman keras jenis arak jowo.

Jumlah arak jowo yang ada di rumah bersangkutan mencapai kurang lebih 100 jeriken yang dikemas dalam ukuran 30 liter. Seluruh arak jowo itu juga siap untuk dikirim ke para pelanggannya.

Dalam modusnya, ternyata minuman itu juga sengaja dicampur dengan air mentah, agar keuntungan yang didapatkan semakin berlimpah. Modal yang dikeluarkan DYA untuk membeli minuman terlarang itu sekitar Rp21 juta dan ketika dijual keuntungannya bisa lebih dari Rp10 juta.

"Omzet untuk hitungan modalnya sekitar Rp21 juta, bisa jadi dapatnya lebih dari Rp31 juta. Itu belinya bisa dengan botol, boleh dengan jeriken, ataupun literan," papar Kapolresta.

Sementara itu, DYA mengaku terpaksa menekuni usaha ini, karena usaha sebelumnya gagal. Ia pernah berjualan nasi goreng, dan aneka jualan lainnya, tapi untungnya hanya sedikit.

"Kalau saya belinya lewat telepon seluler saja. Harganya per jeriken Rp300 ribu. Kalau saya, semua pekerjaan sudah saya coba, tapi yang banyak peminatnya ya ini," kata dia.

Saat ini, yang bersangkutan juga masih mendekam di penjara. Ia terancam dijerat dengan hukuman penjara, karena melanggar UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (*)
 
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar