Kebudayaan yang dimiliki suatu bangsa tersebut memiliki peran dalam membentuk karakter individu dan tatanan sosial yang juga akan memberikan dampak dalam proses pembangunan bangsanya
Jember (Antara Jatim) - Ketua Pusat Penelitian Budaya Lembaga Penelitian Universitas Jember Prof Novi Anugrayekti mengatakan kebudayaan daerah berfungsi sebagai penunjang ketahanan budaya Indonesia.
"Seperti budaya Osing yang dijaga, dikembangkan dan dikemas dengan baik, sehingga masyarakat Banyuwangi bangga akan budayanya sendiri dan dapat kita lihat kebudayaan Osing menjadi ketahanan budaya yang konkrit terhadap terpaan budaya asing," katanya dalam Temu Ilmiah Nasional Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) di Universitas Jember, Jawa Timur, Selasa.
Ia mengatakan budaya Osing yang dikemas melalui kesenian tari dan musik Banyuwangi semakin menarik perhatian masyarakat, baik masyarakat Osing sendiri maupun masyarakat dari luar kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu.
"Hal tersebut tentu membuat warga Osing semakin bangga akan budayanya sendiri karena budaya Osing kini menjadi daya tarik wisata nasional, sehingga wisatawan mancanegara dapat menikmatinya," katanya.
Menurut dia, budaya daerah menjadi salah satu pondasi yang kuat sebagai konsep pemersatu bangsa Indonesia yang memiliki latar belakang yang majemuk karena kebudayaan merupakan salah satu media untuk menunjukkan ciri kepribadian suatu bangsa.
"Kebudayaan yang dimiliki suatu bangsa tersebut memiliki peran dalam membentuk karakter individu dan tatanan sosial yang juga akan memberikan dampak dalam proses pembangunan bangsanya," tuturnya.
Ia menjelaskan kebudayaan Indonesia yang terbentuk dari ratusan budaya daerah memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan negara lain, bahkan terdapat ratusan adat istiadat, kesenian dan bahasa suku bangsa yang berbeda-beda.
"Budaya itu yang menjadi potensi untuk dikembangkan dalam proses pembangunan Indonesia ke depan terutama untuk kesejahteraan masyarakat," ujarnya menambahkan.
Sementara Pembantu Rektor I Universitas Jember Zulfikar mengatakan kebudayaan merupakan aspek penting yang tetap harus diperhatikan dalam pembangunan suatu bangsa karena pembangunan tanpa adanya seni dan budaya akan terasa "kering" dan tidak berwarna.
"Sebanyak 49 penulis dan peneliti menulis sebanyak 43 makalah atau artikel yang kemudian dijadikan sebuah buku berjudul 'Jejak dan Langkah Bahasa, Sastra, dan Budaya: Dari Osing sampai Indonesia'," tuturnya.
Ia berharap kegiatan temu ilmiah nasional tentang kesusastraan terutama budaya Osing dapat memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat luas, sehingga kesenian dan kebudayaan dapat terjaga dengan baik.
Para pakar buadaya yang hadir memaparkan penelitiannya di bidang budaya dalam temu ilmiah nasional khususnya budaya Osing yakni Ketua Umum Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Prof Suwardi Endraswara, Kepala Balai Bahasa Jawa Timur Drs. Amir Mahmud dan Ketua YAYASan Kiling Osing Banyuwangi Aekanu Hariyono.(*)
Pewarta: Zumrotun SolichahEditor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026