Beliau (Anggrahini) adalah sosok guru yang sangat baik dan banyak membimbing kami para yuniornya. Kami tidak akan bisa melupakan kebaikan beliau.Surabaya (Antara Jatim) - Civitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kehilangan pakar drainase,yakni Ir Anggrahini MSc yang meninggal pada Rabu (15/6).
Jenazah dosen senior jurusan Teknik Sipil yang telah banyak menyumbangkan pemikirannya untuk perkembangan Kota Surabaya itu disemayamkan di Aula Plasa dr Angka kampus ITS, Surabaya, Kamis.
Dalam upacara pelepasan putra terbaik ITS itu, para pelayat yang mayoritas merupakan sahabat, kolega, murid, serta civitas akademika ITS terlihat padat memenuhi tempat persemayaman untuk memberikan penghormatan terakhir.
Suasana haru pun menyelimuti prosesi acara yang berlangsung sekitar 1,5 jam. Tak terkecuali Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MScES PhD, yang tak henti-hentinya menitikkan air mata saat menyampaikan sambutan di hadapan jenazah.
"Beliau (Anggrahini) adalah sosok guru yang sangat baik dan banyak membimbing kami para yuniornya. Kami tidak akan bisa melupakan kebaikan beliau," tuturnya.
Setelah upacara pelepasan yang juga dihadiri para mantan rektor ITS seperti Prof Muhammad Zaki, Prof Soegiono, Prof Mohammad Nuh, Prof Priyo Suprobo, dan Prof Triyogi Yuwono itu, jenazah dishalatkan di Masjid Manarul Ilmi ITS.
Selanjutnya, jenazah dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Keputih, Surabaya. Ratusan pelayat pun turut mengiringi jenazah hingga ke tempat pemakaman dan mengikuti prosesi pemakaman hingga usai.
Ir Anggrahini MSc meninggal dunia pada hari Rabu (15/6) pukul 13.55 WIB di RSAL dr Ramelan Surabaya akibat kanker paru-paru yang dideritanya.
"Bu Ang (sapaan akrab Anggrahini) adalah sosok yang sangat kuat, beliau tidak pernah mengeluh perihal sakitnya," ungkap Prof Ir Indrasurya B Mochtar MSc PhD, salah satu mantan muridnya.
Enam bulan yang lalu, kata muridnya yang juga dosen di jurusan Teknik Sipil ITS itu, Bu Ang telah melakukan check up tapi tidak terjadi apa-apa di paru-parunya.
"Namun satu bulan terakhir ini kanker tersebut menjadi sangat ganas hingga akhirnya sampai pada stadium akhir," tuturnya mengenang kepergian mantan Pembantu Rektor I ITS periode 1991 - 1995 itu.
Indrasurya menambahkan bahwa Bu Ang adalah sosok ilmuwan yang patut untuk dijadikan teladan karena pengabdiannya yang tiada akhir, bahkan dua minggu sebelum meninggal masih sempat mengecek pompa air hujan di Wonorejo, Surabaya.
Bu Ang merupakan sosok di balik ide dibangunnya box culvert untuk mengatasi banjir di beberapa wilayah Surabaya. Dia juga telah menuangkan ide untuk menaklukkan labilnya tanah di jembatan MERR Surabaya agar bisa dilalui kendaraan dengan aman dan nyaman.
Wanita kelahiran Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur, 23 Mei 1939, itu menjadi mahasiswa angkatan pertama Jurusan Teknik Sipil yang pergi menemui Roeslan Abdul Gani agar datang menghadap Presiden RI pertama Ir Soekarno guna meresmikan ITS yang saat itu masih bernama Yayasan Pendidikan Tinggi Teknik (YPTT) untuk menjadi sekolah negeri. (*)
Pewarta: Edy M YakubEditor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.