Tulungagung (Antara Jatim) - Sejumlah operator jasa perahu tambangan di sepanjang perbatasan Blitar, Tulungagung, Jawa Timur menghentikan aktivitas layanan penyeberangan karena debit air Sungai Brantas, menyusut sehingga terjadi pendangkalan yang mengganggu pergerakan perahu.
Salah satu jasa penyeberangan yang menghentikan aktivitas terpantau di titik jasa tambangan Doplang, Desa Aryojeding, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Selasa.
Di jalur penyeberangan yang menghubungkan dengan Desa Maron, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar di sisi utara sungai itu, perahu hanya ditambatkan ke tepi sungai.
Solekan (50), operator perahu penyeberangan mengatakan, permukaan air terlalu dangkal sehingga lambung perahu selalu tersangkut di dasar sungai saat belum mencapai tepian sungai.
"Ini sudah sepekanan terjadi karena pengeloa Bendung Wlingi Raya melakukan pengaturan air Sungai Brantas untuk disalurkan ke irigasi-irigasi pertanian," ujar Solekan, menjelaskan.
Tidak hanya di titik tambangan doplangan,penghentian aktivitas layanan penyeberangan juga dilakukan sejumlah operator perahu tambang di sepanjang aliran Sungai Brantas yang memisahkan kedua wilayah kabupaten bertetangga itu.
Informasi Solekan, setidaknya ada tujuh operator tambangan yang memberlakukan sistem buka-tutup jasa layanan penyeberangan.
"Kami buka hanya jika kondisi air sungai tinggi atau naik dibanding sekarang. Jadi kadang buka, kadang tutup begini," ujarnya.
Untuk mengatasi pendangkalan itu sendiri, Solekan dan beberapa operator lain memilih menggunakan jasa operator alat berat jenis eskavator untuk melakukan pengerukan.
Hal itu dimaksudkan agar titik jalur perahu yang mengalami pendangkalan bisa diperdalam, sehingga memudahkan pergerakan kapal saat bergerak dari tepi ke tepi sungai.
"Kalau tidak dikeruk, kami tidak bisa kerja. Sebab sistem buka-tutup juga merugikan karena pengguna jasa cenderung memilih jalur lain yang bisa terus aktif," ucap Saijo,operator tambang yang lain.
Kendati secara keseluruhan terjadi penyusutan air sungai Brantas, namun tidak semua jasa perahu penyeberangan menghentikan aktivitas.
Beberapa tetap aktif karena memiliki penampang sungai yang lebih lebar. Kalaupun sempat terjadi pendangkalan, pengusaha perahu tambangan memilih menggunakan jasa alat berat untuk melakukan pengerukan.
Tingginya potensi ekonomi dari operasional jasa perahu tambangan/penyeberangan yang bisa mencapi Rp1 juta per hari menjadi alasan sejumlah pengusaha lokal berinvestasi di sektor tersebut. (*)
